Selasa, 21 Mei 2013

Sapa Dalam Jingga



Sekumpulan kunang kunang terbang mengiringi malam yang semakin larut. Aku terduduk diam dalam lamunan yang berlalu. Tempat ini masih sama dengan yang dulu. Tempat dimana kata yang tak pernah terucap harus rela terbelenggu. Tempat dimana semua kenangan menjadi satu kemudian kelabu. Lampu taman yang menghiasinya, tak pernah berubah dan selalu meredup jika malam tak bersahabat. Bunga bunga yang dahulu masih kuncup, kini tampak bermekaran. Ada cerita yang masih tersimpan dalam ingatan tentang beberapa tahun yang lalu. Saat sosok yang kini entah kemana, masih menggenggam lembut jemari dalam kehangatan.
---
                “ Hai sudah lama menunggu ya? “ sapanya dengan senyuman yang membuat siapa saja pasti akan terpana.
  “ Hai! Tidak, aku baru saja sampai disini, duduklah. “ kataku dengan membalas senyuman hangatnya.
 Hari ini, adalah hari dimana kita menyempatkan waktu untuk bertemu,  berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama. Dengan dandanan yang sangat aku kenal dan dengan bau harum yang sama, dia selalu mempesona. Detik demi detik kami lalui, tak ada yang mengerti bagaimana sampai saat ini kami masih selalu tertawa bersama, bagaimana hanya dia yang selalu membuat aku rela meninggalkan semua kegiatanku hanya untuk bersamanya, dan bagaimana kami masih dapat menikmati dunia ketika dunia sedang tak bersahabat.
                Kami duduk di sebuah taman di sudut kota. Memanglah tidak mudah, menemukan taman seindah ini di kota metropolitan yang terkadang membuatku terbelenggu dengan segala asap dan hiruk piruk jalanan. Taman ini selalu menjadi tempat kami berbagi cerita, entah tentang hari yang cukup melelahkan, atau hanya tentang burung hantu peliharaannya yang dia sangat sayangi. Pembicaraan hari ini terlalu terpusat dan terlalu serius buatku. Aku selalu senang membicarakan banyak hal padanya tentang apapun. Namun tidak untuk kali ini, hati kami tak halnya lebih banyak berbicara dari pada lidah kami yang serasa menutup seperti bunga- bunga yang masih mengantup. Hari ini memanglah tidak dapat dikatakan hari yang dapat membuat aku terseyum seharian, seperti yang biasa dia lakukan. Hari ini jika bisa, aku hanya ingin menangis dengannya, aku hanya ingin menikmati senyumnya sekali lagi, menikmati setiap detik yang dia hadirkan dalam setiap langkah kecilku.
                “ Maaf ya, aku tidak bisa menolak. Rasanya aku ingin tetap menikmati indahnya bunga di taman ini, namun aku memang harus pergi. “ ucapnya, kali ini dia memperlihatkan ketika dia benar benar ingin tinggal. 
Begitu pun aku selalu ingin kamu di sini.
 Aku hanya dapat tersenyum tipis, tipis sekali hingga mungkin dia tidak dapat melihatnya. Aku selalu ingin dia dapat mengejar impian yang selalu dia dambakan. Aku memanglah bukan siapa siapa untuknya, hingga aku tak dapat menahannya untuk pergi, bahkan ketika aku mengais meminta dia tetap tinggal.
                “ Ada hal yang perlu aku sampaikan. Aku ingin kamu dapat menjaga dirimu dengan baik, jangan nakal ya, jangan lupa untuk mengisi perutmu. Jika kamu butuh tempat untuk bercerita, hubungi saja aku, tapi mungkin tidak dapat sedekat ini lagi.” Kali ini, dia benar benar membuat air mataku terjatuh. Aku tak tahan dengan setiap kata yang ia lontarkan tadi. Aku masih sangat membutuhkannya, aku membutuhkan lenteraku disaat kegelapan menyergapku.
“ Rasanya, aku ingin menahanmu di sini. Jika mampu aku ingin  menutup setiap jalan untuk keluarmu dari negara ini. Namun aku tau, inilah harapan yang selalu kau ceritakan. Aku bahagia karenanya, sungguh. Sahabat terbaikku, aku harap kamu dapat bertahan di sana. Aku selalu akan merindukanmu, merindukan setiap langkahmu. Aku harap kita dapat selalu berbagi. “ Aku berusaha menguatkan diriku sendiri, agar air yang sedari tadi mengalir seperti tak tahu diri dapat berhenti.
                Dia mulai menunjukkan kelembutannya, kali ini  air mukanya berubah menjadi sangat khawatir.
---
                Tahun ini, tepat lima tahun taman ini berganti seperti tamanku sendiri, taman yang dahulu selalu aku habiskan dengannya entah kini hanya ada aku yang sendiri. Entah sedang apa dan bagaimana keadaannya disana. Tempat dan waktu memisahkan kita sekitar tujuh jam dan itu selalu menyiksaku. Sesak semakin menyatu dengan tubuhku, apabila kini aku mengenang setiap lembut sapanya. Bagaimana aku dapat tak bisa melupakan hari hari penuh dengan tawa renyahnya dan entah mengapa setiap hariku masihku sempatkan berada di taman ini agar semua terasa baik-baik saja.
                Otakku bergeming penuh dengan kata dan sapa padanya. Lima tahun yang berjalan dengan lambat, harus tetap menyiksaku dengan hari hari berikutnya. Entahlah, aku hanya merasakan dirinya selalu menemani disampingku dan menyapaku dalam hangat.  Peri-peri seolah berbisik bahwa aku harus lupa saja, namun ribuan bulan di langit dan ketenangan bulan selalu mengikatkanku, bahwa aku hanya ingin dia. Itu saja. Kembalilah. Aku mohon. (la)