Sekumpulan
kunang kunang terbang mengiringi malam yang semakin larut. Aku terduduk diam
dalam lamunan yang berlalu. Tempat ini masih sama dengan yang dulu. Tempat
dimana kata yang tak pernah terucap harus rela terbelenggu. Tempat dimana semua
kenangan menjadi satu kemudian kelabu. Lampu taman yang menghiasinya, tak
pernah berubah dan selalu meredup jika malam tak bersahabat. Bunga bunga yang
dahulu masih kuncup, kini tampak bermekaran. Ada cerita yang masih tersimpan
dalam ingatan tentang beberapa tahun yang lalu. Saat sosok yang kini entah
kemana, masih menggenggam lembut jemari dalam kehangatan.
---
“
Hai sudah lama menunggu ya? “ sapanya dengan senyuman yang membuat siapa saja
pasti akan terpana.
“ Hai! Tidak, aku baru saja sampai disini, duduklah. “ kataku dengan
membalas senyuman hangatnya.
Hari ini, adalah hari dimana kita menyempatkan
waktu untuk bertemu, berbagi cerita dan
menghabiskan waktu bersama. Dengan dandanan yang sangat aku kenal dan dengan
bau harum yang sama, dia selalu mempesona. Detik demi detik kami lalui, tak ada
yang mengerti bagaimana sampai saat ini kami masih selalu tertawa bersama,
bagaimana hanya dia yang selalu membuat aku rela meninggalkan semua kegiatanku
hanya untuk bersamanya, dan bagaimana kami masih dapat menikmati dunia ketika
dunia sedang tak bersahabat.
Kami
duduk di sebuah taman di sudut kota. Memanglah tidak mudah, menemukan taman
seindah ini di kota metropolitan yang terkadang membuatku terbelenggu dengan
segala asap dan hiruk piruk jalanan. Taman ini selalu menjadi tempat kami
berbagi cerita, entah tentang hari yang cukup melelahkan, atau hanya tentang
burung hantu peliharaannya yang dia sangat sayangi. Pembicaraan hari ini
terlalu terpusat dan terlalu serius buatku. Aku selalu senang membicarakan
banyak hal padanya tentang apapun. Namun tidak untuk kali ini, hati kami tak
halnya lebih banyak berbicara dari pada lidah kami yang serasa menutup seperti
bunga- bunga yang masih mengantup. Hari ini memanglah tidak dapat dikatakan
hari yang dapat membuat aku terseyum seharian, seperti yang biasa dia lakukan.
Hari ini jika bisa, aku hanya ingin menangis dengannya, aku hanya ingin menikmati
senyumnya sekali lagi, menikmati setiap detik yang dia hadirkan dalam setiap
langkah kecilku.
“
Maaf ya, aku tidak bisa menolak. Rasanya aku ingin tetap menikmati indahnya
bunga di taman ini, namun aku memang harus pergi. “ ucapnya, kali ini dia
memperlihatkan ketika dia benar benar ingin tinggal.
Begitu pun aku selalu ingin kamu di sini.
Aku hanya dapat tersenyum tipis,
tipis sekali hingga mungkin dia tidak dapat melihatnya. Aku selalu ingin dia
dapat mengejar impian yang selalu dia dambakan. Aku memanglah bukan siapa siapa
untuknya, hingga aku tak dapat menahannya untuk pergi, bahkan ketika aku
mengais meminta dia tetap tinggal.
“
Ada hal yang perlu aku sampaikan. Aku ingin kamu dapat menjaga dirimu dengan
baik, jangan nakal ya, jangan lupa untuk mengisi perutmu. Jika kamu butuh tempat
untuk bercerita, hubungi saja aku, tapi mungkin tidak dapat sedekat ini lagi.” Kali
ini, dia benar benar membuat air mataku terjatuh. Aku tak tahan dengan setiap
kata yang ia lontarkan tadi. Aku masih sangat membutuhkannya, aku membutuhkan
lenteraku disaat kegelapan menyergapku.
“ Rasanya, aku
ingin menahanmu di sini. Jika mampu aku ingin
menutup setiap jalan untuk keluarmu dari negara ini. Namun aku tau,
inilah harapan yang selalu kau ceritakan. Aku bahagia karenanya, sungguh.
Sahabat terbaikku, aku harap kamu dapat bertahan di sana. Aku selalu akan
merindukanmu, merindukan setiap langkahmu. Aku harap kita dapat selalu berbagi.
“ Aku berusaha menguatkan diriku sendiri, agar air yang sedari tadi mengalir
seperti tak tahu diri dapat berhenti.
Dia
mulai menunjukkan kelembutannya, kali ini
air mukanya berubah menjadi sangat khawatir.
---
Tahun
ini, tepat lima tahun taman ini berganti seperti tamanku sendiri, taman yang
dahulu selalu aku habiskan dengannya entah kini hanya ada aku yang sendiri.
Entah sedang apa dan bagaimana keadaannya disana. Tempat dan waktu memisahkan
kita sekitar tujuh jam dan itu selalu menyiksaku. Sesak semakin menyatu dengan
tubuhku, apabila kini aku mengenang setiap lembut sapanya. Bagaimana aku dapat
tak bisa melupakan hari hari penuh dengan tawa renyahnya dan entah mengapa
setiap hariku masihku sempatkan berada di taman ini agar semua terasa baik-baik
saja.
Otakku
bergeming penuh dengan kata dan sapa padanya. Lima tahun yang berjalan dengan
lambat, harus tetap menyiksaku dengan hari hari berikutnya. Entahlah, aku hanya
merasakan dirinya selalu menemani disampingku dan menyapaku dalam hangat. Peri-peri seolah berbisik bahwa aku harus
lupa saja, namun ribuan bulan di langit dan ketenangan bulan selalu
mengikatkanku, bahwa aku hanya ingin dia. Itu saja. Kembalilah. Aku mohon. (la)