Masih terasa jejak kaki dua insan yang mencoba mengasah hati di bawah untaian rasi bintang. Ada rasa dibalik setiap kata. Dua manusia yang sedari tadi memulai percakapan dengan hati hati. Memulai setiap detik dengan rasa yang terasa begitu kuat namun terlalu indah jika keluar terlalu banyak. Rasa yang tak biasa, yang coba mereka artikan dengan logika. Rasa yang semakin bertambah detik demi detik. Rasa yang memaksa untuk tak dapat berpaling.
Lelaki itu bernama Doni. Dengan kaos abu-abu yang terlihat sekali berumur lebih dari lima tahun, celana jeans yang entah itu berwarna apa dan lengkap dengan kacamata yang membuatnya semakin menawan. Wanita itu bernama Lisa. Dengan kemeja flanel warna peach, celana jeans berwarna abu abu dan sepatu bertali putih. Dua orang ini sedari tadi hanya terduduk di bangku taman di sudut kota. Dua orang yang telah terlalu mengenal satu sama lain. Bahkan tanpa berkata pun dua orang ini dapat tertawa bersama. Lampu taman masih mau menyala untungnya ketika jam tangan telah menunjukkan tengah malam. Doni dan Lisa masih saja enggan untuk meninggalkan tempat duduk mereka. dengan berbekal satu bungkus kacang kupas dan dua botol kopi dingin dua orang ini menghabiskan malam bersama. Kota ini begitu ramai. Pada jam begini saja masih banyak orang berlalu lalang. Entah menuju ke suatu tempat, atau kembali dari tempat kerja untuk beristirahat di rumah.
" Lama rasanya gak kayak gini. ngobrol lama sama kamu, makan kacang ditaman, kopi ditangan. haha kayaknya udah lama banegt ya kita gak ketemu lis " Doni memandang ke arah Lisa dengan takjub. Anak perempuan ingusan yang dulu selalu mengajaknya bermain pasir di taman, kini menjadi wanita yang sangat cantik. Lampu taman jelas menunjukkan keelokan wajah Lisa. Rambut panjangnya yang diikat asal, wajahnya yang tak berpoles apapun. Alami. Seperti alam indah yang tak terjangkau siapapun.
" Haha iyalah don. udah lamaa banget. lihat aja wajahmu, udah tua gitu. tapi tetep gak berubah, kaca mataanya masih aja tebel hahahah " Lisa menjawab dengan tawa renyahnya. Masih sama.
" Tau gak sih lis kalau kamu itu gak berubah. Tetep aja cuek kayak gini. Penasaran deh siapa nanti orang yang bisa ngerubah lisa yang cuek jadi cewek yang perhatian. " Celetuk Doni asal. Lisa terdiam sejenak. Berfikir. Matanya memandang kesatu titik. Kosong tapi terlihat sekali jika sedang berikir. Alisnya sedikit mengekerut dan bibirnya seperti menggungamkan sesuatu, palan sekali. Tak terdengar jawaban dan tanda tanda bahwa Lisa akan menjawab. Doni terkejut. Apakah dia salah mengajukan pernyataan.
" Menurutmu cewek itu harus gitu ta, Don? erhatian, gak cuek? gak boleh kayak gini aja ya ? " Akhirnya Lisa pun bersuara. Doni bukannya lega, dia kebingungan menjawab pertanyaan Lisa. dia tak pernah tahu jawaban itu. Karena dia tak pernah memikirkan hal seperti itu.
" Gak tau. yang aku tau, biasanya kayak gitu. Gak pernah mikir juga " Doni memilih menjawab jujur, tak ingin menalar terlalu jauh jawaban yang terlalu rumit pikirnya
" Aku cuma mau kayak gini don. gak mau berubah. gak boleh ya? " Pertanyaan Lisa semakin diperjelas. Dia ingin Doni menjawabnya dengan jelas.
" Boleh aja lah lis. terserah kamu. Namanya kan hidup kamu " Jawab Doni seakan ingin menyudahi percakapan ini.
Lampu taman mulai redup. Jam tangan juga sudah menunjukkan hampir dua pagi. Tak ada tanda tanda mereka akan beranjak dari bangku tersebut. Doni dan Lisa masih memendam kata. Sesuatu yang terlihat samar akan tetapi sebenarnya terasa jelas. Hanya menunggu siapa yang akan bicara pertama. Yang berani mengadu hati pada kenangan bertahun tahun yang mereka bina. Tanpa paksaan, Tanpa ikatan, yang ada hanya tawa renyah yang selalu mereka banggakan.
" Lis, jangan berubah ya. gini aja. " Doni mulai khawatir denga Lisa. Dia mendekat, hingga warna bola mata lisa kini terlihat jelas. Dia memiliki mata yang sangat indah.
" Don, kalau suatu saat aku gak tau aku berubah tapi kamu yang tau. Kamu mau negur aku? "
Lisa kembali bertanya, kini mata mereka bertemu. Dalam sekali. Seperti jawabannya sudah jelas. Hanya saja hari itu mereka butuh kepastian.
" Aku akan selalu membawamu kembali lis, entah kamu berubah sejauh apa. Aku masih akan mau mebawamu kembali lis, bukan buat aku. tapi baut kamu yang sekarang aku kenal. buat semua lembaran bertahun tahun yang kita alami. dalam persahabata atau apa ini aku gak tau. Aku akan selalu mebawamu kembali lis " Doni seakan tak dapat menahan semuanya. Bertahun tahun dalam batas yang mereka sebut pertemanan dan kini semua sudah jelas, saat mereka berpisah dan mereka bertemu kembali. Ada rindu yang seakan menggebu gebu namun malu untuk terlihat.
" Aku tau kok, Don " Lisa tersenyum. Senyumnya berbeda. Sangat indah. Bibir tipis merahnya seakan menggambarkan kebahagiaan yang alami. Begitu samar, namun jelas ada.
" Balik yuk. Udah pagi " Doni beranjak berdiri, diikuti oleh Lisa yang hanya mengangguk.
Dua orang ini, akhirnya berjalan pulang. Namun ada suatu sisa yang mereka harus tinggalkan. Di tempat ini dipagi yang dimana orang orang masih terlelap, ada dua insan yang akhirnya mengerti mengapa mereka bersama selama ini mereka mereka dapat tertawa bersama walaupun hati mereka tak mampu tersenyum. Pada akhirnya, mereka tak ingin berubah dan akan kembali pulang bagaimanapun keadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar