Hari ini, harusnya semua berjalan seperti biasanya. Bukan hal yang luar biasa ketika aku mengeluh lelah ataupun menyerah, namun hari ini ada satu sisi dimana aku terleleap jatuh. Entah bagaimana semua terasa kosong dan hampa. Semua sisi dan sudut terasa hanya garis lurus tak berujung. Hanya ada sesuatu yang mungkin tidak nyata namun dipaksa untuk tetap ada. Aku merindu. Pada semua hal yang pernah aku alami. Pada hembusan angin yang pernah aku rasakan. Pada tetesan embun yang setiap pagi aku perhatikan. Pada belaian lembut jemari yang selalu hadir dalam setiap fajar. Pada waktu yang terlalu cepat untuk dirasakan.
Adakah seseorang dapat menjelaskan padaku mengapa semua berubah terlalu cepat? Aku merindu. Sajak sajak yang sedari dulu aku kagumi mengalami pemberhentian berbulan-bulan kini terbuka kembali. Aku merindu. Pada setiap bayangan yang mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Aku merindu. Tolong berikan aku sebuah tonggak agar aku dapat bertahan sejenak!
Berilah aku waktu untuk bernafas sejenak. Melihat kembali sisi lemahku yang perlu aku perbaiki. Berilah aku waktu membenahi ruang ruang hidupku yang menjadi bayangan dalam setiap titik terlemahku. Bukan maksud ingin mengeluh. Namun manusia diciptakan selalu ada batasnya. Bukannya aku membatasi diri. Namun, Aku merindu. Aku merindu pada segala hal. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari matahari terbit hingga terbenam kembali.
Aku tidak akan menjadi seonggok daging yang hanya diberi nama, tentu saja. Akan aku sambungkan lagi titik demi titik, garis demi garis, bangun demi bangun, hinga ruang demi ruang. Namun aku butuh sepasang sepatu, tak perlu baru, namun bisa menemaniku berjalan itu saja sudah cukup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar