Langit
masih saja menunjukkan birunya yang membuat siapa saja jatuh cinta. Mungkin
kini seseorang sedang menunggu datangnya hujan hingga dia dapat menari bebas
dan mengecup embun embun dedaunan atau mungkin ada seseorang lainnya yang
mengucapkan doa dalam keheningannya agar hujan tidak membasahi bumi, hingga dia
tidak tersiksa dalam keadaan sepi. Bagaiman bisa aku menjatuhkan diri pada
seseorang diantara keduanya? Dan masihkah dapat ku cari sosok yang benar benar
ingin memeluk hujan namun dapat memecah keheningan?
Aku
hanya dapat melihatnya dari belakang, melihat punggungnya, dan sesekali
mendengarkan suaranya bercerita ataupun menanyakan bagaimana keadaanku. Bahkan
aku baru sadar bola matanya begitu indah dan bulat saat aku memberanikan diri
untuk menatap wajahnya saat dia kehabisan tenaga. Aku menyukai setiap sudut
pandang dirinya. Entah itu bola mata yang sampai saat ini selalu
menghantui pikiranku hingga setiap lagu
yang pernah dia senandungkan. Bagaimana sosok sederhana ini selalu membuatku
terpesona. Namun, bagaimana aku bisa merengkuhnya dalam kedinginan jika
akhirnya aku hanya dapat menahan diri untuk menjadi penonton setia dalam jarak
yang kesekian. Dalam jarak yang aman agar dia tidak menyadari betapa
sesungguhnya aku hanya ingin menikmati setiap simfoni yang seperti mengalir
jika dia berbicara bahkan ketika dia tertawa renyah. Aku menyukai setiap helai
kain yang ia gunakan entah itu berwarna indah sesuai dengan warna yang kusuka
atau bahkan dengan warna yang aku sangat tidak suka. Entah mengapa, ia tetap
terlihat sempurna. Entah mengapa kini aku menikmati duduk terdiam di pojok
ruangan dan mungkin sesekali melontarkan kata yang membuatnya tertawa. Aku
bahagia mendengarkan setiap tawanya dan sesekali aku memandang ke dalam dua
bola mata hitam dan bulat sempurna. Entah insan apa yang telah Tuhan ciptakan
ini, mengapa engkau begitu terlihat mempesona untukku?
Aku
sering berharap jika pada akhirnya hujan menghentikanmu sejenak. Hingga aku
dapat lebih banyak mengamatimu dan lebih dapat mengenalmu. Atau hanya sekedar
menikmati aromamu. Hujan membuatku kedinginan, sungguh. Tapi aku begitu
menyukainya, bagaimana Tuhan menciptakan suasana yang begitu damai hingga aku
dapat mendengarkan lambaian hembusan angin sejenak. Aku tak terlalu peduli
berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk bersama denganmu. Tak mengapa jika
hanya bertukar sapa atau kita dapat membuat percakapan yang membuatku begitu
bahagia. Suaramu yang selalu membuatku tertegun dan membuatku segan.
Menjadi
pengamat tidaklah mudah, aku harus benar benar menghapuskan jejakku jika kau
telah mulai menyadarinya. Aku ingin tetap seperti ini. Dapat mendengarkan
tawamu saja sudah lebih dari cukup. Menikmati keindahanmu dari sisi belakang.
Dan sungguh, aku mulai sangat menyukaimu, dalam diam.