Kamis, 28 Maret 2013

Pemuja Yang Bertepi Dalam Diam


                Langit masih saja menunjukkan birunya yang membuat siapa saja jatuh cinta. Mungkin kini seseorang sedang menunggu datangnya hujan hingga dia dapat menari bebas dan mengecup embun embun dedaunan atau mungkin ada seseorang lainnya yang mengucapkan doa dalam keheningannya agar hujan tidak membasahi bumi, hingga dia tidak tersiksa dalam keadaan sepi. Bagaiman bisa aku menjatuhkan diri pada seseorang diantara keduanya? Dan masihkah dapat ku cari sosok yang benar benar ingin memeluk hujan namun dapat memecah keheningan?
                Aku hanya dapat melihatnya dari belakang, melihat punggungnya, dan sesekali mendengarkan suaranya bercerita ataupun menanyakan bagaimana keadaanku. Bahkan aku baru sadar bola matanya begitu indah dan bulat saat aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya saat dia kehabisan tenaga. Aku menyukai setiap sudut pandang dirinya. Entah itu bola mata yang sampai saat ini selalu menghantui  pikiranku hingga setiap lagu yang pernah dia senandungkan. Bagaimana sosok sederhana ini selalu membuatku terpesona. Namun, bagaimana aku bisa merengkuhnya dalam kedinginan jika akhirnya aku hanya dapat menahan diri untuk menjadi penonton setia dalam jarak yang kesekian. Dalam jarak yang aman agar dia tidak menyadari betapa sesungguhnya aku hanya ingin menikmati setiap simfoni yang seperti mengalir jika dia berbicara bahkan ketika dia tertawa renyah. Aku menyukai setiap helai kain yang ia gunakan entah itu berwarna indah sesuai dengan warna yang kusuka atau bahkan dengan warna yang aku sangat tidak suka. Entah mengapa, ia tetap terlihat sempurna. Entah mengapa kini aku menikmati duduk terdiam di pojok ruangan dan mungkin sesekali melontarkan kata yang membuatnya tertawa. Aku bahagia mendengarkan setiap tawanya dan sesekali aku memandang ke dalam dua bola mata hitam dan bulat sempurna. Entah insan apa yang telah Tuhan ciptakan ini, mengapa engkau begitu terlihat mempesona untukku?
                Aku sering berharap jika pada akhirnya hujan menghentikanmu sejenak. Hingga aku dapat lebih banyak mengamatimu dan lebih dapat mengenalmu. Atau hanya sekedar menikmati aromamu. Hujan membuatku kedinginan, sungguh. Tapi aku begitu menyukainya, bagaimana Tuhan menciptakan suasana yang begitu damai hingga aku dapat mendengarkan lambaian hembusan angin sejenak. Aku tak terlalu peduli berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk bersama denganmu. Tak mengapa jika hanya bertukar sapa atau kita dapat membuat percakapan yang membuatku begitu bahagia. Suaramu yang selalu membuatku tertegun dan membuatku segan.
                Menjadi pengamat tidaklah mudah, aku harus benar benar menghapuskan jejakku jika kau telah mulai menyadarinya. Aku ingin tetap seperti ini. Dapat mendengarkan tawamu saja sudah lebih dari cukup. Menikmati keindahanmu dari sisi belakang. Dan sungguh, aku mulai sangat menyukaimu, dalam diam. 

Kamis, 21 Maret 2013

Simfoni Hati yang Selalu Menunggu (part 1)



                Dia masih terdiam dalam lamunan. Di balik kaca jendela yang berlapiskan kain putih itu dia menyandarkan diri. Memandang ke luar tanpa tau sebenarnya apa yang dia liat. Matanya seperti menerawang pertanda apa yang akan datang. Menerawang apa yang telah terjadi dan dia hanya memilih menyimpannya dalam  hati. Dimana kamu lenteraku? Kemana perginya kamu? Apa kamu sedang duduk di taman favoritmu untuk menghabiskan waktu? Aku ingin menemuimu lenteraku. Dalam gelap dan sepiku.
----
                Langit masih menunjukkan cerianya. Matahari seperti tepat berada di ubun ubun sampai dia memercingkan matanya hingga hanya nampak seperti segaris. Dia menungu di depan halte sekolah seperti biasanya, tidak ada yang spesial untuk hari ini baginya. Halte itu lenggang, hanya nampak seorang yang sedari tadi duduk kelelahan dan kepanasan di sebelah gerobak baksonya. Wanita itu tampak tidak kuat dengan panasnya kota pahlawan ini. Kulitnya yang kuning langsat memang tak pernah menghitam sampai dia harus memakai krim para wanita wanita yang ingin kulitnya nampak begitu cerah. Dia alami. Seperti  percikan air dalam sungai. Senyum tipisnya nampak ketika dia melihat angkutan kota yang sedari tadi telah ditunggunya. Ah akhirnya.  
                Dia duduk di barisan paling belakang yang dekat dengan jendela. Itu memang tempat favoritnya. Dia membuka jendela lebar lebar hingga udara dapan masuk dan memenuhi isi angkutan kota itu. Dia duduk dengan tenang sedari melihat ke luar jendela dan menghirup udara dalam dalam. Angkutan itu tidak penuh, hanya ada tiga orang termasuk wanita yang terlihat menikmati perjalanan pulang yang tidak dapat dikatakan sebentar. Tiba tiba telepon genggamnya berdering, dia terlonjak terkejut dengan getaran yang dihasilkan satu pesan masuk itu. Tampak jelas nama ‘ Alfa ‘ . dia tersenyum tipis kembali. Senyuman itu hanya segaris namun mampu membuat siapapun yang melihatnya akan merasa terbang sesaat. Dibukalah pesan yang sedikit mengganggu keasyikannya bercengkrama dengan udara kota ini.
Dari : Alfa
Pesan : Test
Apa apaan si Alfa ini pesannya gak penting banget. Namun wanita itu masih tetap ingin untuk membalas seadanya.
Balas :  Hai
Dia melanjutkan keasyikannya menghirup dalam dalam udara dan mengalirkannya diseluruh bagian tubuh. Dia selalu melakukan itu. Menikmati setiap hembusan yang dapat dia hirup saat dalam keadaan apapun. Angkutan itu berjalan dengan lambat. Bahkan jika diadu dengan orang berjalan saja, orang itu pasti akan berada di posisi depan. Setiap mata yang memasuki angkutan itu tidak melepaskan pandangannya pada satu sosok wanita di ujung baris duduk di pinggir jendela. Dia memang seperti bebas jiwanya. Jujur dan tak peduli dengan apapun yang memintanya untuk menghentikan setiap ritual syukurnya untuk menikmati kenikamatan udara dari Tuhan. Getaran dari ponsel genggamnya pun akhirnya dapat menghentikannya sejenak. Pesan dari alfa lagi. Batinnya.
Dari : Alfa
Pesan :  Hai juga udah pulang ta?
Tak mau kehilangan suasana ritual menghirup udaranya, dia pun membalas pesan singkat itu dengan cepat.
Balas : Dalam perjalanan. Kenapa?
Nampaknya Alfa sedang ingin mengganggu ritualnya sejenak. Setelah beberapa saat mereka duduk bersebelahan, akhirnya Alfa membuka pintu hubungan kedua belah pihak yang jauh berbeda ini.
Alfa. Yang sedang duduk di sebuah taman di dekat rumahnya. Yang menikmati indahnya kupu- kupu dan bunga-bunga di sampingnya. Dia begitu menikmati saat-saat paling menenangkan untuk hidupnya. Menghirup udara di tengah taman dan sejenak melepas lelah dari kota metropolitan. Ada sesuatu yang ia pendam namun tak bisa ia kendalikan. Ia terpaku pada satu sosok yang beberapa hari ini membuatnya selalu tersenyum. Sosok yang hanya bisa  dia nikmati dari samping namun tak bisa dia rengkuh. Sosok yang bebas dan selalu menarik. Di balik kaca mata yang berganggang  hitamnya seseorang itu mengalihkan dunia Alfa.  
                Alfa  mengirim sebuah pesan singkat kembali. Pesan itu memang sangat singkat dan sederhana. Namun, dibalik kesederhanaannya. Tersimpan banyak makna. Alfa membutuhkan waktu 30 menit untuk mengirim pesan pertama. Seseorang yang  berada jauh di sana. Yang seolah menjadi pelangi walaupun  langit tak bersahabat. Membuatnya selalu berfikir apa yang harus dilakukan oleh Alfa untuk dapat sejenak memandang kedua bola matanya. Menikmati senyumnya. Memasuki dunianya.
Dari : Alfa
Pasan : Gapapa, cuma tanya. Nggak ganggu kan tan?
                Kintan. Melihat cakrawala dengan mata yang berbeda. Melihat dunia dari jendela yang hanya dia yang mengerti. Dia aman. Dalam kaca yang melindungi dia dari badai yang sangat tidak dia harapkan. Dia jiwa yang bebas. Terbang seperti kupu-kupu yang terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah dengan cara apa kupu-kupu kecil yang rentan dan rapuh tiba tiba terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah kenapa pelangi selalu ada dalam hari-harinya.
Balas : Oh, Enggak kok.
                Perbincangan panjang mereka pun dimulai. Alfa lah yang menjadi biangnya. Bagaimana dia meluluhkan Kintan yang seperti embun namun sukar untuk direngkuh. Kintan yang selama ini liar dalam pikirannya kini mampu menyapa dunia dengan lembut dan hangat. Entah Alfa sadar atau tidak, pesan singkatnya pada hari itu mengubah hidup Kintan. Dua insan yang berbeda. Alfa dengan segala ketidakpastiaanya dan Kintan dengan segala hal yang pasti. Ada rasa yang terselip, ada bintang yang menyapa dan ada hasrat dalam kata. Perbincangan yang tak biasa. Perbincangan yang  menjadi zona nyaman mereka berdua. Perbincangan yang menciptakan rasa. Sangat luar biasa.
                Langit seperti sangat bersahabat. Tak menandakan akan turun hujan dan sinarnya terik matahari tak terlampau menyilaukan. Langit mengerti jika ada dua insan yang ingin sejenak terhenti. Terhenti dalam asa mereka, dalam dimensi yang hanya mereka pahami. Tanpa kicauan merpati yang berirama tanpa henti. Mereka ingin jauh dari kota bising yang dipenuhi tikus-tikus penipuan. Gudang dari pertentangan. Dunia bagi orang orang tak berhati. Lupa dengan hati yang rasanya rentan jika harus tersakiti. Dunia ini telah berputar seperti mati. Berputar hanya dalam satu sisi. Yang menjadi mayoritas yang akan berpengaruh. Yang minoritas? Hanya menunggu dalam kotak mainan. Menunggu dirinya diputar oleh anak kecil dalam lamunan. Memasuki dimensi anak-anak yang tak pernah mati. Untuk mengerti bagaimana kepolosan  dan kesederhanaanlah yang berarti segalanya.
                Embun pagi masih terlihat menyapu dedaunan namun sosok itu telah menunggu di depan pintu. Sosok yang menjadi lamunan dalam kerinduan malam, sosok yang mengubah segalanya menjadi lebih ceria dan sosok yang berada dalam hati yang kesepian. Dalam busana klasik yang mengundang setiap mata untuk sedikit melirik. Dalam jaket berwarna abu-abu kesayangan dan  kaos berwarna putih dengan tulisan kecil yang bersahabat. Tak ada yang istimewa. Hanya saja dia sempurna. Tentunya bagi sosok wanita yang menantinya dalam diam. Hanya berbicara lewat hembusan angin dan sapaan halus. Mereka selalu mengerti satu sama lain, walaupun tak banyak kata rindu terucap. Namun mereka berdua tau mereka selalu saling merindukan. Wanita itu masih termenung di depan kaca. Melihat gaya busananya yang dikenankan untuk bertemu seseorang yang berhasil membuat dia merubah segalanya. Dalam balutan gaun santai yang dia kenakan. Dia terlihat sangat manis. Bermotif polos dan berwarna lembut dengan pita kecil menjadi aksen yang menarik. Memakai sepatu  tak ber-hak yang sangat lucu dangeraian rambut sebahu dengan senyuman segaris yang sangat menawan. Dia melihat lagi keseluruhan bentuk tubuhnya. Apakah dia terlihat spesial hari ini atau justru terlihat memuakkan. Jiwanya kini tak sebebas dulu. Kini ada seseorang yang telah merengkuh sedikit jiwanya tanpa mengurangi daya tariknya. Ada yang menjadi sandaran jiwa yang bebas, kini dapat beristirahat sejenak. 


Minggu, 10 Maret 2013

Sonata Hujan


   Dia. Seseorang yang setia menanti di balik rasa lelah. Seseorang yang selalu menanti kabar dan mencari keberadaanku. Entah mulai kapan dia mulai menjadi orang yang pertama berada di otakku saat  aku membuka mata. Memandang senyumnya saat dia menatap lekat kedua bola mataku selalu membuatku mengembangkan senyum dan membuat hariku lebih baik. Dapatkah dia selalu mendekapku  saat rintik hujan mendera? Ataukah dia akan melepaskanku saat badai menghantam?

" Kamu sudah berapa lama disini? Maaf ya aku lama " kataku. Dia mengecup keningku. Lembut. Hangat.
" Ah nggak, baru aja kok. Kamu capek ya? Keringatnya tuh " jawabnya dengan senyumnya yang hangat dan belaian lembut mengusap kepalaku. Aku seperti anak yang bertemu dengan ayahnya.
" Iya. Latihannya berat nih hari ini. Maaf ya buat kamu nunggu  " Aku begitu menikmati keindahan air mukanya saat dia mulai memperhatikanku seperti ini. Entahhlah. Bagaimana dia bisa seindah ini ketika matahari telah menjelma sebagai bulan. Aku sangat menikmaati keadaan seperti ini.
" Yuk, nanti keburu malam loh. Kamu juga harus istirahatkan kan? "  Kecupan lembut itu kembali dihantarkannya. Aku hanya tersenyum kepadanya dan menaiki sepeda motor yang sedari tadi  menunggu kami. 
      Aku selalu menikmati perjalanan pulang bersamanya. Entah karena aku dapat sekedar melepas lelah dibahunya atau karena dialah yang membawaku menembus angin malam dengan hangat. Aku membayangkan bagaimna jika hujan membuatnya terhenti. Bagaimana jika hujan membuat kita terpisah. Tersiksa. Dua jiwa yang harusnya menyatu tiba-tiba terpisah dengan rintik hujan. Dapatkah aku melewatinya?
 " Tadi ngapain aja? cerita dong ke aku " Tangannya menggenggam lembut tanganku yang memegang erat jaketnya. Mengharap kehangatan dari matahariku ini membuatku lebih tenang dan  menghilangkan peluhku. 
" Latian fisik. Lari dan ya seperti biasanya itu, tapi aku udah mulai manja sekarang. Sering gak kuat. Lemah ya aku? " aku menjawab seenaknya. 
" Siapa sih yang bilang kamu lemah? kamu cuma butuh istirahat kok. Istirahat yang banyak ya? kalau udah nggak kuat berhenti loh ya " Aku mengamati parasnya dari kaca spion motor. Betapa hangat dan lembutnya wajah indah ini. 
          Aku terpaku. Seperti layaknya anaknya kucing aku selalu ingin dimanja. Tiba-tiba air hujan menghantam kami. Aku menyukai hujan. Menyukai semua tentangnya. Tentang baunya dan tentang kenangan yang ditinggalkan olehnya.
“ Kita berhenti sebentar ya, pakai jas hujan “ katanya, singkat.
Tuhan jangan hentikan hujan ini. Mungkin aku tidak akan merasakan hujan seperti ini lagi. Bersamanya. Adakala kami berbisik. Adakala kami teriak. Namun adakala disaat kami tak tau apa yang harus kami lakukan. Adakala disaat kami hanya inign bersandar ditempat kami berpijak. Aku tak ingin meninggalkannya. Sungguh. Kata demi kata telah aku rangkai dalam beberapa tulisanku agar dia selalu dapat mengenalku. Mengenangku yang setidaknya pernah menjadi seseorang yang utuh baginya.  Sorot mata itu, yang memabukkanku dan selalu membuatku melayang. Kini ada dihadapanku, Di bawah hujan. Dia begitu bersinar dan membuatku utuh. Kini dia menatapku lekat. Seperti bertanya. Namun tak menemukan jawabnya. Mata kami beradu, dia bertanya dan aku mengalihkan jawabannya. Aku mengalah. Tatapanku terlalu lemah jika dibandingkan dengan tetapannya. Aku menunduk dan dengan cepat dia membuatku terjaga. Dia memelukku dengan hangat. Di bawah hujan.
“ Kamu kenapa? Kamu kedinginan? Maaf ya harusnya aku tidak membuatmu hujan hujan “ bisiknya. Tuhan, sekali lagi aku hanya mohon engkau jaga dia. Entah dalam pelukan siapa. Tapi jagala dia seperti dia menjagaku seperti ini.
“ Aku gak kenapa kenapa “ Aku tidak bisa menahan isak tangisku. Aku ketakutan. Ku rengkuh tubuhnya lebih dalam hingga aku dapat merasakan detak jantungnya. Dia sepertinya mengerti jika aku dalam fase yang mungkin buruk baginya. Dia mendekapku dengan lembut dan hangat. Aku mendengar dia mulai ikut menangis. Isak tangisnya terasa jelas ditelingku, walaupun aku yakin dia telah menahan air matanya. Dia mendekapku dengan sangat erat seperti tak mau aku melepaskannya.
“ Kamu jangan pergi “ bisiknya pelan. Lirih, hampir tak terdengar.
“ Aku takut. “ Kini air mataku tak tertahankan lagi aku mulai menangis seperti anak bayi. Air hujan masih menyelimuti kami. Tak ada tanda jika dia akan berhenti.
“ Aku sudah tau semuanya sayang. Tenang, ada aku. “ air matanya kini mulai membasahi rambutku yang sedari tadi dibelainya dengan lembut.
Tuhan, mungkin kini waktuku telah habis untuk mendekapnya seperti ini. Namun izinkan aku meminta padaMu. Tuhan, berilah dia kebahagiaan yang dia harapkan. Jaga dia seperti dia menjagaku. Dekaplah dia, jika dia mulai menjauh dariMu. Berikan dia kesehatan yang selalu membuatnya dapat mengejar semua mimpi-mimpinya. Tuhan, kini embun tak dapat ada setelah hujan. Kini tak ada sapaan halus dan lembut yang membelai hati. Kini pelangi tak ubahnya hanya pantulan warna tanpa arti sebenarnya. Namun Tuhan, bisikkan selalu rinduku untuknya.