Dia. Seseorang yang setia menanti di balik rasa
lelah. Seseorang yang selalu menanti kabar dan mencari keberadaanku. Entah
mulai kapan dia mulai menjadi orang yang pertama berada di otakku saat
aku membuka mata. Memandang senyumnya saat dia menatap lekat kedua bola
mataku selalu membuatku mengembangkan senyum dan membuat hariku lebih baik.
Dapatkah dia selalu mendekapku saat rintik hujan mendera? Ataukah dia
akan melepaskanku saat badai menghantam?
" Kamu sudah berapa lama disini? Maaf ya aku lama "
kataku. Dia mengecup keningku. Lembut. Hangat.
" Ah nggak, baru aja kok. Kamu capek ya? Keringatnya tuh
" jawabnya dengan senyumnya yang hangat dan belaian lembut mengusap
kepalaku. Aku seperti anak
yang bertemu dengan ayahnya.
" Iya. Latihannya berat nih hari ini. Maaf ya buat kamu
nunggu " Aku begitu menikmati keindahan air mukanya saat dia mulai
memperhatikanku seperti ini. Entahhlah. Bagaimana dia bisa seindah ini ketika
matahari telah menjelma sebagai bulan. Aku sangat menikmaati keadaan seperti
ini.
" Yuk, nanti keburu malam loh. Kamu juga harus istirahatkan
kan? " Kecupan lembut itu kembali dihantarkannya. Aku hanya tersenyum
kepadanya dan menaiki sepeda motor yang sedari tadi menunggu kami.
Aku selalu menikmati perjalanan pulang
bersamanya. Entah karena aku dapat sekedar melepas lelah dibahunya atau karena
dialah yang membawaku menembus angin malam dengan hangat. Aku membayangkan
bagaimna jika hujan membuatnya terhenti. Bagaimana jika hujan membuat kita
terpisah. Tersiksa. Dua jiwa
yang harusnya menyatu tiba-tiba terpisah dengan rintik hujan. Dapatkah aku
melewatinya?
"
Tadi ngapain aja? cerita dong ke aku " Tangannya menggenggam lembut
tanganku yang memegang erat jaketnya. Mengharap kehangatan dari matahariku ini
membuatku lebih tenang dan menghilangkan peluhku.
" Latian fisik. Lari dan ya seperti biasanya itu, tapi aku
udah mulai manja sekarang. Sering gak kuat. Lemah ya aku? " aku menjawab
seenaknya.
" Siapa sih yang bilang kamu lemah? kamu cuma butuh istirahat
kok. Istirahat yang banyak ya? kalau udah nggak kuat berhenti loh ya " Aku
mengamati parasnya dari kaca spion motor. Betapa hangat dan lembutnya wajah
indah ini.
Aku terpaku. Seperti
layaknya anaknya kucing aku selalu ingin dimanja. Tiba-tiba air hujan
menghantam kami. Aku menyukai hujan. Menyukai semua tentangnya. Tentang baunya
dan tentang kenangan yang ditinggalkan olehnya.
“ Kita berhenti sebentar ya, pakai jas hujan “ katanya, singkat.
Tuhan jangan hentikan hujan ini. Mungkin aku
tidak akan merasakan hujan seperti ini lagi. Bersamanya. Adakala kami berbisik. Adakala kami
teriak. Namun adakala disaat kami tak tau apa yang harus kami lakukan. Adakala
disaat kami hanya inign bersandar ditempat kami berpijak. Aku tak ingin
meninggalkannya. Sungguh. Kata demi kata telah aku rangkai dalam beberapa
tulisanku agar dia selalu dapat mengenalku. Mengenangku yang setidaknya pernah
menjadi seseorang yang utuh baginya. Sorot mata itu, yang memabukkanku dan selalu
membuatku melayang. Kini ada dihadapanku, Di bawah hujan. Dia begitu bersinar
dan membuatku utuh. Kini dia menatapku lekat. Seperti bertanya. Namun tak
menemukan jawabnya. Mata kami beradu, dia bertanya dan aku mengalihkan
jawabannya. Aku mengalah. Tatapanku terlalu lemah jika dibandingkan dengan
tetapannya. Aku menunduk dan dengan cepat dia membuatku terjaga. Dia memelukku
dengan hangat. Di bawah hujan.
“ Kamu kenapa? Kamu kedinginan? Maaf ya harusnya aku tidak
membuatmu hujan hujan “ bisiknya. Tuhan,
sekali lagi aku hanya mohon engkau jaga dia. Entah dalam pelukan siapa. Tapi jagala
dia seperti dia menjagaku seperti ini.
“ Aku gak kenapa kenapa “ Aku tidak bisa menahan isak tangisku. Aku
ketakutan. Ku rengkuh tubuhnya lebih dalam hingga aku dapat merasakan detak
jantungnya. Dia sepertinya mengerti jika aku dalam fase yang mungkin buruk
baginya. Dia mendekapku dengan lembut dan hangat. Aku mendengar dia mulai ikut
menangis. Isak tangisnya terasa jelas ditelingku, walaupun aku yakin dia telah
menahan air matanya. Dia mendekapku dengan sangat erat seperti tak mau aku
melepaskannya.
“ Kamu jangan pergi “ bisiknya pelan. Lirih, hampir tak terdengar.
“ Aku takut. “ Kini air mataku tak tertahankan lagi aku mulai
menangis seperti anak bayi. Air hujan masih menyelimuti kami. Tak ada tanda jika
dia akan berhenti.
“ Aku sudah tau semuanya sayang. Tenang, ada aku. “ air matanya kini
mulai membasahi rambutku yang sedari tadi dibelainya dengan lembut.
Tuhan, mungkin kini waktuku telah habis
untuk mendekapnya seperti ini. Namun izinkan aku meminta padaMu. Tuhan, berilah
dia kebahagiaan yang dia harapkan. Jaga dia seperti dia menjagaku. Dekaplah dia,
jika dia mulai menjauh dariMu. Berikan dia kesehatan yang selalu membuatnya
dapat mengejar semua mimpi-mimpinya. Tuhan, kini embun tak dapat ada setelah
hujan. Kini tak ada sapaan halus dan lembut yang membelai hati. Kini pelangi
tak ubahnya hanya pantulan warna tanpa arti sebenarnya. Namun Tuhan, bisikkan
selalu rinduku untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar