Minggu, 10 Maret 2013

Sonata Hujan


   Dia. Seseorang yang setia menanti di balik rasa lelah. Seseorang yang selalu menanti kabar dan mencari keberadaanku. Entah mulai kapan dia mulai menjadi orang yang pertama berada di otakku saat  aku membuka mata. Memandang senyumnya saat dia menatap lekat kedua bola mataku selalu membuatku mengembangkan senyum dan membuat hariku lebih baik. Dapatkah dia selalu mendekapku  saat rintik hujan mendera? Ataukah dia akan melepaskanku saat badai menghantam?

" Kamu sudah berapa lama disini? Maaf ya aku lama " kataku. Dia mengecup keningku. Lembut. Hangat.
" Ah nggak, baru aja kok. Kamu capek ya? Keringatnya tuh " jawabnya dengan senyumnya yang hangat dan belaian lembut mengusap kepalaku. Aku seperti anak yang bertemu dengan ayahnya.
" Iya. Latihannya berat nih hari ini. Maaf ya buat kamu nunggu  " Aku begitu menikmati keindahan air mukanya saat dia mulai memperhatikanku seperti ini. Entahhlah. Bagaimana dia bisa seindah ini ketika matahari telah menjelma sebagai bulan. Aku sangat menikmaati keadaan seperti ini.
" Yuk, nanti keburu malam loh. Kamu juga harus istirahatkan kan? "  Kecupan lembut itu kembali dihantarkannya. Aku hanya tersenyum kepadanya dan menaiki sepeda motor yang sedari tadi  menunggu kami. 
      Aku selalu menikmati perjalanan pulang bersamanya. Entah karena aku dapat sekedar melepas lelah dibahunya atau karena dialah yang membawaku menembus angin malam dengan hangat. Aku membayangkan bagaimna jika hujan membuatnya terhenti. Bagaimana jika hujan membuat kita terpisah. Tersiksa. Dua jiwa yang harusnya menyatu tiba-tiba terpisah dengan rintik hujan. Dapatkah aku melewatinya?
 " Tadi ngapain aja? cerita dong ke aku " Tangannya menggenggam lembut tanganku yang memegang erat jaketnya. Mengharap kehangatan dari matahariku ini membuatku lebih tenang dan  menghilangkan peluhku. 
" Latian fisik. Lari dan ya seperti biasanya itu, tapi aku udah mulai manja sekarang. Sering gak kuat. Lemah ya aku? " aku menjawab seenaknya. 
" Siapa sih yang bilang kamu lemah? kamu cuma butuh istirahat kok. Istirahat yang banyak ya? kalau udah nggak kuat berhenti loh ya " Aku mengamati parasnya dari kaca spion motor. Betapa hangat dan lembutnya wajah indah ini. 
          Aku terpaku. Seperti layaknya anaknya kucing aku selalu ingin dimanja. Tiba-tiba air hujan menghantam kami. Aku menyukai hujan. Menyukai semua tentangnya. Tentang baunya dan tentang kenangan yang ditinggalkan olehnya.
“ Kita berhenti sebentar ya, pakai jas hujan “ katanya, singkat.
Tuhan jangan hentikan hujan ini. Mungkin aku tidak akan merasakan hujan seperti ini lagi. Bersamanya. Adakala kami berbisik. Adakala kami teriak. Namun adakala disaat kami tak tau apa yang harus kami lakukan. Adakala disaat kami hanya inign bersandar ditempat kami berpijak. Aku tak ingin meninggalkannya. Sungguh. Kata demi kata telah aku rangkai dalam beberapa tulisanku agar dia selalu dapat mengenalku. Mengenangku yang setidaknya pernah menjadi seseorang yang utuh baginya.  Sorot mata itu, yang memabukkanku dan selalu membuatku melayang. Kini ada dihadapanku, Di bawah hujan. Dia begitu bersinar dan membuatku utuh. Kini dia menatapku lekat. Seperti bertanya. Namun tak menemukan jawabnya. Mata kami beradu, dia bertanya dan aku mengalihkan jawabannya. Aku mengalah. Tatapanku terlalu lemah jika dibandingkan dengan tetapannya. Aku menunduk dan dengan cepat dia membuatku terjaga. Dia memelukku dengan hangat. Di bawah hujan.
“ Kamu kenapa? Kamu kedinginan? Maaf ya harusnya aku tidak membuatmu hujan hujan “ bisiknya. Tuhan, sekali lagi aku hanya mohon engkau jaga dia. Entah dalam pelukan siapa. Tapi jagala dia seperti dia menjagaku seperti ini.
“ Aku gak kenapa kenapa “ Aku tidak bisa menahan isak tangisku. Aku ketakutan. Ku rengkuh tubuhnya lebih dalam hingga aku dapat merasakan detak jantungnya. Dia sepertinya mengerti jika aku dalam fase yang mungkin buruk baginya. Dia mendekapku dengan lembut dan hangat. Aku mendengar dia mulai ikut menangis. Isak tangisnya terasa jelas ditelingku, walaupun aku yakin dia telah menahan air matanya. Dia mendekapku dengan sangat erat seperti tak mau aku melepaskannya.
“ Kamu jangan pergi “ bisiknya pelan. Lirih, hampir tak terdengar.
“ Aku takut. “ Kini air mataku tak tertahankan lagi aku mulai menangis seperti anak bayi. Air hujan masih menyelimuti kami. Tak ada tanda jika dia akan berhenti.
“ Aku sudah tau semuanya sayang. Tenang, ada aku. “ air matanya kini mulai membasahi rambutku yang sedari tadi dibelainya dengan lembut.
Tuhan, mungkin kini waktuku telah habis untuk mendekapnya seperti ini. Namun izinkan aku meminta padaMu. Tuhan, berilah dia kebahagiaan yang dia harapkan. Jaga dia seperti dia menjagaku. Dekaplah dia, jika dia mulai menjauh dariMu. Berikan dia kesehatan yang selalu membuatnya dapat mengejar semua mimpi-mimpinya. Tuhan, kini embun tak dapat ada setelah hujan. Kini tak ada sapaan halus dan lembut yang membelai hati. Kini pelangi tak ubahnya hanya pantulan warna tanpa arti sebenarnya. Namun Tuhan, bisikkan selalu rinduku untuknya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar