Dia
masih terdiam dalam lamunan. Di balik kaca jendela yang berlapiskan kain putih
itu dia menyandarkan diri. Memandang ke luar tanpa tau sebenarnya apa yang dia
liat. Matanya seperti menerawang pertanda apa yang akan datang. Menerawang apa
yang telah terjadi dan dia hanya memilih menyimpannya dalam hati. Dimana
kamu lenteraku? Kemana perginya kamu? Apa kamu sedang duduk di taman favoritmu
untuk menghabiskan waktu? Aku ingin menemuimu lenteraku. Dalam gelap dan
sepiku.
----
Langit
masih menunjukkan cerianya. Matahari seperti tepat berada di ubun ubun sampai
dia memercingkan matanya hingga hanya nampak seperti segaris. Dia menungu di
depan halte sekolah seperti biasanya, tidak ada yang spesial untuk hari ini
baginya. Halte itu lenggang, hanya nampak seorang yang sedari tadi duduk
kelelahan dan kepanasan di sebelah gerobak baksonya. Wanita itu tampak tidak
kuat dengan panasnya kota pahlawan ini. Kulitnya yang kuning langsat memang tak
pernah menghitam sampai dia harus memakai krim para wanita wanita yang ingin
kulitnya nampak begitu cerah. Dia alami. Seperti percikan air dalam sungai. Senyum tipisnya
nampak ketika dia melihat angkutan kota yang sedari tadi telah ditunggunya. Ah akhirnya.
Dia
duduk di barisan paling belakang yang dekat dengan jendela. Itu memang tempat
favoritnya. Dia membuka jendela lebar lebar hingga udara dapan masuk dan
memenuhi isi angkutan kota itu. Dia duduk dengan tenang sedari melihat ke luar
jendela dan menghirup udara dalam dalam. Angkutan itu tidak penuh, hanya ada
tiga orang termasuk wanita yang terlihat menikmati perjalanan pulang yang tidak
dapat dikatakan sebentar. Tiba tiba telepon genggamnya berdering, dia terlonjak
terkejut dengan getaran yang dihasilkan satu pesan masuk itu. Tampak jelas nama
‘ Alfa ‘ . dia tersenyum tipis kembali. Senyuman itu hanya segaris namun mampu
membuat siapapun yang melihatnya akan merasa terbang sesaat. Dibukalah pesan
yang sedikit mengganggu keasyikannya bercengkrama dengan udara kota ini.
Dari : Alfa
Pesan : Test
Apa apaan si Alfa ini
pesannya gak penting banget. Namun wanita itu masih tetap ingin untuk
membalas seadanya.
Balas : Hai
Dia melanjutkan keasyikannya menghirup dalam dalam udara dan
mengalirkannya diseluruh bagian tubuh. Dia selalu melakukan itu. Menikmati
setiap hembusan yang dapat dia hirup saat dalam keadaan apapun. Angkutan itu
berjalan dengan lambat. Bahkan jika diadu dengan orang berjalan saja, orang itu
pasti akan berada di posisi depan. Setiap mata yang memasuki angkutan itu tidak
melepaskan pandangannya pada satu sosok wanita di ujung baris duduk di pinggir
jendela. Dia memang seperti bebas jiwanya. Jujur dan tak peduli dengan apapun
yang memintanya untuk menghentikan setiap ritual syukurnya untuk menikmati
kenikamatan udara dari Tuhan. Getaran dari ponsel genggamnya pun akhirnya dapat
menghentikannya sejenak. Pesan dari alfa
lagi. Batinnya.
Dari : Alfa
Pesan : Hai juga udah
pulang ta?
Tak mau kehilangan suasana ritual menghirup udaranya, dia
pun membalas pesan singkat itu dengan cepat.
Balas : Dalam perjalanan. Kenapa?
Nampaknya Alfa sedang ingin mengganggu ritualnya sejenak.
Setelah beberapa saat mereka duduk bersebelahan, akhirnya Alfa membuka pintu
hubungan kedua belah pihak yang jauh berbeda ini.
Alfa. Yang sedang duduk di sebuah
taman di dekat rumahnya. Yang menikmati indahnya kupu- kupu dan bunga-bunga di sampingnya.
Dia begitu menikmati saat-saat paling menenangkan untuk hidupnya. Menghirup
udara di tengah taman dan sejenak melepas lelah dari kota metropolitan. Ada
sesuatu yang ia pendam namun tak bisa ia kendalikan. Ia terpaku pada satu sosok
yang beberapa hari ini membuatnya selalu tersenyum. Sosok yang hanya bisa dia nikmati dari samping namun tak bisa dia
rengkuh. Sosok yang bebas dan selalu menarik. Di balik kaca mata yang
berganggang hitamnya seseorang itu
mengalihkan dunia Alfa.
Alfa mengirim sebuah pesan singkat kembali. Pesan
itu memang sangat singkat dan sederhana. Namun, dibalik kesederhanaannya.
Tersimpan banyak makna. Alfa membutuhkan waktu 30 menit untuk mengirim pesan
pertama. Seseorang yang berada jauh di
sana. Yang seolah menjadi pelangi walaupun
langit tak bersahabat. Membuatnya selalu berfikir apa yang harus
dilakukan oleh Alfa untuk dapat sejenak memandang kedua bola matanya. Menikmati
senyumnya. Memasuki dunianya.
Dari : Alfa
Pasan : Gapapa, cuma tanya. Nggak ganggu kan tan?
Kintan.
Melihat cakrawala dengan mata yang berbeda. Melihat dunia dari jendela yang
hanya dia yang mengerti. Dia aman. Dalam kaca yang melindungi dia dari badai
yang sangat tidak dia harapkan. Dia jiwa yang bebas. Terbang seperti kupu-kupu
yang terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah dengan cara apa kupu-kupu kecil
yang rentan dan rapuh tiba tiba terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah kenapa pelangi
selalu ada dalam hari-harinya.
Balas : Oh, Enggak kok.
Perbincangan
panjang mereka pun dimulai. Alfa lah yang menjadi biangnya. Bagaimana dia
meluluhkan Kintan yang seperti embun namun sukar untuk direngkuh. Kintan yang
selama ini liar dalam pikirannya kini mampu menyapa dunia dengan lembut dan
hangat. Entah Alfa sadar atau tidak, pesan singkatnya pada hari itu mengubah
hidup Kintan. Dua insan yang berbeda. Alfa dengan segala ketidakpastiaanya dan
Kintan dengan segala hal yang pasti. Ada rasa yang terselip, ada bintang yang
menyapa dan ada hasrat dalam kata. Perbincangan yang tak biasa. Perbincangan
yang menjadi zona nyaman mereka berdua.
Perbincangan yang menciptakan rasa. Sangat luar biasa.
Langit
seperti sangat bersahabat. Tak menandakan akan turun hujan dan sinarnya terik
matahari tak terlampau menyilaukan. Langit mengerti jika ada dua insan yang
ingin sejenak terhenti. Terhenti dalam asa mereka, dalam dimensi yang hanya
mereka pahami. Tanpa kicauan merpati yang berirama tanpa henti. Mereka ingin
jauh dari kota bising yang dipenuhi tikus-tikus penipuan. Gudang dari
pertentangan. Dunia bagi orang orang tak berhati. Lupa dengan hati yang rasanya
rentan jika harus tersakiti. Dunia ini telah berputar seperti mati. Berputar
hanya dalam satu sisi. Yang menjadi mayoritas yang akan berpengaruh. Yang
minoritas? Hanya menunggu dalam kotak mainan. Menunggu dirinya diputar oleh
anak kecil dalam lamunan. Memasuki dimensi anak-anak yang tak pernah mati.
Untuk mengerti bagaimana kepolosan dan
kesederhanaanlah yang berarti segalanya.
Embun pagi
masih terlihat menyapu dedaunan namun sosok itu telah menunggu di depan pintu.
Sosok yang menjadi lamunan dalam kerinduan malam, sosok yang mengubah segalanya
menjadi lebih ceria dan sosok yang berada dalam hati yang kesepian. Dalam
busana klasik yang mengundang setiap mata untuk sedikit melirik. Dalam jaket
berwarna abu-abu kesayangan dan kaos
berwarna putih dengan tulisan kecil yang bersahabat. Tak ada yang istimewa.
Hanya saja dia sempurna. Tentunya bagi sosok wanita yang menantinya dalam diam.
Hanya berbicara lewat hembusan angin dan sapaan halus. Mereka selalu mengerti
satu sama lain, walaupun tak banyak kata rindu terucap. Namun mereka berdua tau
mereka selalu saling merindukan. Wanita itu masih termenung di depan kaca.
Melihat gaya busananya yang dikenankan untuk bertemu seseorang yang berhasil
membuat dia merubah segalanya. Dalam balutan gaun santai yang dia kenakan. Dia
terlihat sangat manis. Bermotif polos dan berwarna lembut dengan pita kecil
menjadi aksen yang menarik. Memakai sepatu tak ber-hak yang sangat lucu dangeraian rambut
sebahu dengan senyuman segaris yang sangat menawan. Dia melihat lagi
keseluruhan bentuk tubuhnya. Apakah dia terlihat spesial hari ini atau justru
terlihat memuakkan. Jiwanya kini tak sebebas dulu. Kini ada seseorang yang
telah merengkuh sedikit jiwanya tanpa mengurangi daya tariknya. Ada yang
menjadi sandaran jiwa yang bebas, kini dapat beristirahat sejenak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar