sajak ini ku tuliskan ketika kau telah pergi
malam begitu menggigil
dan bulan tak tampak
hanya ketika semua telah terlelap
ku berani ungkapkan kata
tak semudah bagaimana hati melangkah
dan kini bintang sedang cantik cantiknya
namun tak kulihat bulan yang bertepi
kukatakan kita terlampau sering memuja bulan
dan terlupa dengan bintang
namun kini bintang menampakkan dirinya
selamat malam
kamu yang sedang berlari
Kamis, 01 Mei 2014
Selasa, 08 April 2014
Akhirnya Puncak Kedua
Ada hal dimana aku selalu mau melakukan hal ini berkali-kali. Mendaki gunung. Hal ini bukanlah hal yang dapat dikatakan mudah, tak hanya bermodalkan fisik yang kuat saja, mental juga sangat perlu dipersiapkan. Rangkaian persiapan memang harus diperhitungakn dengan sangat pas. Dimulai dengan bagaimana fisiknya, bagaimana barang yang akan dibawa, mempersiapkan alat alat penunjuk jalan, mengetahui medan dan yang paling penting, bagaimana kerja sama tim tersebut terbentuk.
Smalapala. Mengajarkanku, bahwa kita sebagai manusia hanya kecil dan Tuhan itu sangat besar. Kita tidak dapat mendahuluinya dengan berkata bahwa semua aman, namun yang kita lakukan adalah mempersiapkan bagaimana agar tidak terjadi hal buruk apapun. Mendaki gunung bukanlah ajang untuk memamerkan ketangguhan, karena kita hanyalah sebagian kecil dari alam yang sangat luas ini. Tak ada gunung yang dapat ditaklukan, yang harusnya ditaklukkan adalah dirimu sendiri. Bukan puncak menjadi tujuan, mendaki gunung memang membuatku belajar dengan apa yang disebut proses.
Persiapan ini telah kami mulai dengan sangat apik sejak satu bulan sebelum pendakian. Semua dipersiapkan dengan sangat matang. Dengan berbekal sedikit pengetahuanku tentang gunung yang akan kami daki ini, aku memulai dengan menambah pengetahuanku tentang itu. kami telah memutuskan kami akan mendaki dua puncak sekaligus, yaitu G. Arjuno dan G. Welirang. kedua gunung ini memang sering digunakan untuk mendaki sehingga jalan yang akan dilewati pun jelas. kami memilih untuk naik melalui jalur tretes dan turun melalui jalur lawang. aku pernah melewati jalur lawang saat tahun lalu, meskipun tidak sampai puncak, setidaknya aku masih ingat bagaimana tipe jalan tersebut. Semua hal telah dijadwalkan. latihan fisik dan beban telah diperhitungkan. Perizinian perlahan mulai diurus. Dan ada satu hal yang selalu membuatku semangat, senyum teman dan adikku yang tak pernah hilang.
Hari itu tiba, setelah pulang sekolah, kamipun bergegas untuk mempersiapkan semuanya dan mengingat kembali apa rasanya yang belum kami bawa. Setelah kami siap, barang barang dibawa ke angkutan umum dan kami pun akan menuju ke terminal bungurasih. Asal tahu saja, aku merasa tidak enak pada supir angkotnya, karena ternyat yang memenuhi angkotnya dengan sesak adalah tas carrier bersama 14 anak yang super duper berisik. maafkan kami paak :)
Setelah sampai diterminal kami menuju bis yang akan menuju ke malang. Bisnya sedang sepi tapi kaminya tak bisa sepi. Sepanjang perjalanan diisi dengan tertawa, sampai sampai ada yang menegur kami. alhasil, kami diam tak berkutik. Hahahah mungkin memang tawa kami mengacaukan tidur seluruh penumpang. sekitar jam lima sore kami sudah tiba di terminal pandaan dan melanjutkan perjalanan dengan bison. Perjalanan dari terminal pandaan menuju pos perizinan memakan waktu sekitar satu jam. setelah mengurus perizinan dan membeli makanan, kami memulai pemanasan untuk melanjutkan perjalanan. Kami memulai trekking pada hari itu untuk menuju podokan sekitar jam satu pagi keesokan harinya. Jalan yang kami tempuh adalah jalan berbatu, kami terus melanjutkan perjalanan. gelap dan dingin membuat semua muali lelah. Namun kami masih melanjutkan perjalanan sampai menuju kokopan terlebih dahulu. rencana awal kami, kami berjala 2-3 jam untuk menuju kokopan, namun ternyata sudah lebih dari itu. yang lainnya sudah mulai mengeluh dengan jalan berbatu ini dan masih selalu ada yang menyemangati. GPS melihatkan bahwa jalan tinggal sedikit lagi, kami semakin semangat namundingin semakin merasuki celah celah rusuk kami. sedikit lagi sudah kokopan. Aku mengerti. Aku pindah keurutan belakang dan mulai untuk menyemangati mereka yang mulai lelah. sampai pada ada adik yang mengeluh dia sesak. Aku memberinya oxycan dan menyuruh satu orang untuk mengajaknya bicara sambil berjalan, agar dia tetap sadar. 15 menit berjalan, bruk. adik itu pingsan. kami panik. aku panik. aku berusaha untuk tenang, dan semuanya mengusahakan untuk kondisi tetap tenang. aku lakukan semua pertolongan pertama yang aku tau, dan memutuskan utuk ada yang langsung menuju kokopan untuk meminta bantuan. Sedikit lama, kami sudah mencoba menyadarkannya. tapi alhasil dia tak sadar. Akhirnya kami memutuskan untuk menggendongnya sampai kokopan. kami masukkan dia kedalam dome. Kami selimuti dia dengan sleeping bag. yang penting dia hangat dulu. itu saja. akhirnya dia sadar, namun masih kedinginan. aku peluk dia dan terus berbicara padanya, menjaga kesadarannya. dan syukurlah, keadaannya baik baik saja. akhirnya, kami memutuskan untuk bermalam dikokopan terlebih dahulu. semua berisitirahat dan mempersiapkan fisik untuk hari esok.
Keesokan paginya, kami siap untuk melanjutkan perjalanan menuju pondokan. Kami tau, perjalanan ini tak jauh beda dari tadi malam. tapi masih dengan semangat yang sama, kami melanjutkan perjalanan. alhasil perjalanan ini memakan waktu selama empat jam. dan kami sudah sampai di pondokan. sempat terjadi perselisihan, bahwa bagaimana kami akan melanjutkan perjalanan. iya, kejadian semalam tidak adapat kami pungkiri bahwa memakan banyak waktu. Kami memutuskan untuk hanya menuju satu puncak. welirang atau arjuno. banyak pertimbangan yang kami lakukan. karena perjalanan ke Arjuno jauh lebih berat. Dengan pemilihan suara terbanyak, akhirnya kami memilih untuk welirang saja. hari itu kai habiskan dengan bersenda gurau di pondokan.
Keesokan harinya kami menuju puncak welirang, kami meninggalkan tenda kami di pondokan dan menuju puncak welirang. menempuh sekitar 2,5 jam untuk mencapi puncak welirang. Woooooo ini adalah puncak keduaku setelah penanggungan. aku hanya dapat berterimakasih kepada Tuhan.
Tak berlama lama dipuncak, kami turun kembali kepondokan dan menyiapkan barang untuk turun kembali ke pos perizinan. aku selalu benci saat turun, dan yang bisa dilihat hahaha aku turun paling belakang. kayaknya aku memang harus latihan untuk itu.
Perjlanan ini banyak memberikan aku pelajaran. Bahwa memang puncak bukanlah tujuannya. Dan apapun yang kami dapat dari perjalanan ini, sudah melewati dari puncak arjuno yang terlewatkan. Nanti, entah kapan, aku akan mencoba mendaki arjuno kembali. mungkin aku tak akan terlewatkan untuk ketiga kalinya :D
Ini yang selalu bikin semangat. bukan puncaknya, tapi rame-ramenyaaaa :)
Smalapala. Mengajarkanku, bahwa kita sebagai manusia hanya kecil dan Tuhan itu sangat besar. Kita tidak dapat mendahuluinya dengan berkata bahwa semua aman, namun yang kita lakukan adalah mempersiapkan bagaimana agar tidak terjadi hal buruk apapun. Mendaki gunung bukanlah ajang untuk memamerkan ketangguhan, karena kita hanyalah sebagian kecil dari alam yang sangat luas ini. Tak ada gunung yang dapat ditaklukan, yang harusnya ditaklukkan adalah dirimu sendiri. Bukan puncak menjadi tujuan, mendaki gunung memang membuatku belajar dengan apa yang disebut proses.
Persiapan ini telah kami mulai dengan sangat apik sejak satu bulan sebelum pendakian. Semua dipersiapkan dengan sangat matang. Dengan berbekal sedikit pengetahuanku tentang gunung yang akan kami daki ini, aku memulai dengan menambah pengetahuanku tentang itu. kami telah memutuskan kami akan mendaki dua puncak sekaligus, yaitu G. Arjuno dan G. Welirang. kedua gunung ini memang sering digunakan untuk mendaki sehingga jalan yang akan dilewati pun jelas. kami memilih untuk naik melalui jalur tretes dan turun melalui jalur lawang. aku pernah melewati jalur lawang saat tahun lalu, meskipun tidak sampai puncak, setidaknya aku masih ingat bagaimana tipe jalan tersebut. Semua hal telah dijadwalkan. latihan fisik dan beban telah diperhitungkan. Perizinian perlahan mulai diurus. Dan ada satu hal yang selalu membuatku semangat, senyum teman dan adikku yang tak pernah hilang.
Hari itu tiba, setelah pulang sekolah, kamipun bergegas untuk mempersiapkan semuanya dan mengingat kembali apa rasanya yang belum kami bawa. Setelah kami siap, barang barang dibawa ke angkutan umum dan kami pun akan menuju ke terminal bungurasih. Asal tahu saja, aku merasa tidak enak pada supir angkotnya, karena ternyat yang memenuhi angkotnya dengan sesak adalah tas carrier bersama 14 anak yang super duper berisik. maafkan kami paak :)
Setelah sampai diterminal kami menuju bis yang akan menuju ke malang. Bisnya sedang sepi tapi kaminya tak bisa sepi. Sepanjang perjalanan diisi dengan tertawa, sampai sampai ada yang menegur kami. alhasil, kami diam tak berkutik. Hahahah mungkin memang tawa kami mengacaukan tidur seluruh penumpang. sekitar jam lima sore kami sudah tiba di terminal pandaan dan melanjutkan perjalanan dengan bison. Perjalanan dari terminal pandaan menuju pos perizinan memakan waktu sekitar satu jam. setelah mengurus perizinan dan membeli makanan, kami memulai pemanasan untuk melanjutkan perjalanan. Kami memulai trekking pada hari itu untuk menuju podokan sekitar jam satu pagi keesokan harinya. Jalan yang kami tempuh adalah jalan berbatu, kami terus melanjutkan perjalanan. gelap dan dingin membuat semua muali lelah. Namun kami masih melanjutkan perjalanan sampai menuju kokopan terlebih dahulu. rencana awal kami, kami berjala 2-3 jam untuk menuju kokopan, namun ternyata sudah lebih dari itu. yang lainnya sudah mulai mengeluh dengan jalan berbatu ini dan masih selalu ada yang menyemangati. GPS melihatkan bahwa jalan tinggal sedikit lagi, kami semakin semangat namundingin semakin merasuki celah celah rusuk kami. sedikit lagi sudah kokopan. Aku mengerti. Aku pindah keurutan belakang dan mulai untuk menyemangati mereka yang mulai lelah. sampai pada ada adik yang mengeluh dia sesak. Aku memberinya oxycan dan menyuruh satu orang untuk mengajaknya bicara sambil berjalan, agar dia tetap sadar. 15 menit berjalan, bruk. adik itu pingsan. kami panik. aku panik. aku berusaha untuk tenang, dan semuanya mengusahakan untuk kondisi tetap tenang. aku lakukan semua pertolongan pertama yang aku tau, dan memutuskan utuk ada yang langsung menuju kokopan untuk meminta bantuan. Sedikit lama, kami sudah mencoba menyadarkannya. tapi alhasil dia tak sadar. Akhirnya kami memutuskan untuk menggendongnya sampai kokopan. kami masukkan dia kedalam dome. Kami selimuti dia dengan sleeping bag. yang penting dia hangat dulu. itu saja. akhirnya dia sadar, namun masih kedinginan. aku peluk dia dan terus berbicara padanya, menjaga kesadarannya. dan syukurlah, keadaannya baik baik saja. akhirnya, kami memutuskan untuk bermalam dikokopan terlebih dahulu. semua berisitirahat dan mempersiapkan fisik untuk hari esok.
Keesokan paginya, kami siap untuk melanjutkan perjalanan menuju pondokan. Kami tau, perjalanan ini tak jauh beda dari tadi malam. tapi masih dengan semangat yang sama, kami melanjutkan perjalanan. alhasil perjalanan ini memakan waktu selama empat jam. dan kami sudah sampai di pondokan. sempat terjadi perselisihan, bahwa bagaimana kami akan melanjutkan perjalanan. iya, kejadian semalam tidak adapat kami pungkiri bahwa memakan banyak waktu. Kami memutuskan untuk hanya menuju satu puncak. welirang atau arjuno. banyak pertimbangan yang kami lakukan. karena perjalanan ke Arjuno jauh lebih berat. Dengan pemilihan suara terbanyak, akhirnya kami memilih untuk welirang saja. hari itu kai habiskan dengan bersenda gurau di pondokan.
Keesokan harinya kami menuju puncak welirang, kami meninggalkan tenda kami di pondokan dan menuju puncak welirang. menempuh sekitar 2,5 jam untuk mencapi puncak welirang. Woooooo ini adalah puncak keduaku setelah penanggungan. aku hanya dapat berterimakasih kepada Tuhan.
Tak berlama lama dipuncak, kami turun kembali kepondokan dan menyiapkan barang untuk turun kembali ke pos perizinan. aku selalu benci saat turun, dan yang bisa dilihat hahaha aku turun paling belakang. kayaknya aku memang harus latihan untuk itu.
Perjlanan ini banyak memberikan aku pelajaran. Bahwa memang puncak bukanlah tujuannya. Dan apapun yang kami dapat dari perjalanan ini, sudah melewati dari puncak arjuno yang terlewatkan. Nanti, entah kapan, aku akan mencoba mendaki arjuno kembali. mungkin aku tak akan terlewatkan untuk ketiga kalinya :D
Ini yang selalu bikin semangat. bukan puncaknya, tapi rame-ramenyaaaa :)
Rabu, 12 Februari 2014
tiba-tiba rindu.
Hari ini, harusnya semua berjalan seperti biasanya. Bukan hal yang luar biasa ketika aku mengeluh lelah ataupun menyerah, namun hari ini ada satu sisi dimana aku terleleap jatuh. Entah bagaimana semua terasa kosong dan hampa. Semua sisi dan sudut terasa hanya garis lurus tak berujung. Hanya ada sesuatu yang mungkin tidak nyata namun dipaksa untuk tetap ada. Aku merindu. Pada semua hal yang pernah aku alami. Pada hembusan angin yang pernah aku rasakan. Pada tetesan embun yang setiap pagi aku perhatikan. Pada belaian lembut jemari yang selalu hadir dalam setiap fajar. Pada waktu yang terlalu cepat untuk dirasakan.
Adakah seseorang dapat menjelaskan padaku mengapa semua berubah terlalu cepat? Aku merindu. Sajak sajak yang sedari dulu aku kagumi mengalami pemberhentian berbulan-bulan kini terbuka kembali. Aku merindu. Pada setiap bayangan yang mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Aku merindu. Tolong berikan aku sebuah tonggak agar aku dapat bertahan sejenak!
Berilah aku waktu untuk bernafas sejenak. Melihat kembali sisi lemahku yang perlu aku perbaiki. Berilah aku waktu membenahi ruang ruang hidupku yang menjadi bayangan dalam setiap titik terlemahku. Bukan maksud ingin mengeluh. Namun manusia diciptakan selalu ada batasnya. Bukannya aku membatasi diri. Namun, Aku merindu. Aku merindu pada segala hal. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari matahari terbit hingga terbenam kembali.
Aku tidak akan menjadi seonggok daging yang hanya diberi nama, tentu saja. Akan aku sambungkan lagi titik demi titik, garis demi garis, bangun demi bangun, hinga ruang demi ruang. Namun aku butuh sepasang sepatu, tak perlu baru, namun bisa menemaniku berjalan itu saja sudah cukup.
Adakah seseorang dapat menjelaskan padaku mengapa semua berubah terlalu cepat? Aku merindu. Sajak sajak yang sedari dulu aku kagumi mengalami pemberhentian berbulan-bulan kini terbuka kembali. Aku merindu. Pada setiap bayangan yang mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Aku merindu. Tolong berikan aku sebuah tonggak agar aku dapat bertahan sejenak!
Berilah aku waktu untuk bernafas sejenak. Melihat kembali sisi lemahku yang perlu aku perbaiki. Berilah aku waktu membenahi ruang ruang hidupku yang menjadi bayangan dalam setiap titik terlemahku. Bukan maksud ingin mengeluh. Namun manusia diciptakan selalu ada batasnya. Bukannya aku membatasi diri. Namun, Aku merindu. Aku merindu pada segala hal. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari matahari terbit hingga terbenam kembali.
Aku tidak akan menjadi seonggok daging yang hanya diberi nama, tentu saja. Akan aku sambungkan lagi titik demi titik, garis demi garis, bangun demi bangun, hinga ruang demi ruang. Namun aku butuh sepasang sepatu, tak perlu baru, namun bisa menemaniku berjalan itu saja sudah cukup.
Sabtu, 25 Januari 2014
Ketika semuanya nanti sudah pada waktu yang tepat
Seseorang disudut kota duduk termenung tak bersuara. Adakah panggilan hatinya terdengar di seluruh kota?
Dia terdiam. Hanya menatap kekosongan. Bolehkah terbesit dalam hatinya rasa yang mencoba nyata?
Detak waktu seakan terdengar sangat jelas. Seketika hati terselimuti kabut entah putih atau hitam. Seseorang tolong teriak.
Mewakili dia yang tak bisa berbicara.Tapi dengarkan sedikit bisikannya
Bahwa ada kata yang mengalir disetiap dia memandang. Bahwa ada rasa yang begitu indah terlalu malu untuk terlihat
diamlah.
Ketika semuanya telah ada,
Kau akan terkejut
Jangan meloncat.Tetaplah diam.
Dia akan menggenggammu erat. Hingga tak akan ada lagi kabut yang terus memyelimuti.
Rabu, 22 Januari 2014
Review- joshua files invisible city
Buku ini adalah buku yang entah keberapa kalinya saya beli karena sampulnya yang bagus. Buku ini saya temukan di toko buku sederhana dan sedang ada diskon besar-besarn. Yaa berhubung lagi pada diskon dan kayaknya bagus, ya saya beli :))
Ini adalah serial pertama dan masih ada tiga buku lagi. Buku pertama ini menceritakan tentang josh, peran utama adalah anak daei seorang arkeolog yang kontraversial. Pada suatu hari, josh menerima kabar bahwa ayahnya meninggal. Josh tentu saja tak percaya. Karena rasa itu, josh memulai perjalanannya. Perjalanan diawali dengam menemukan orang orang terakhir yang ditemui ayahnya. Josh berjalan kemana mana dan menelii setiap barang ayahnya,mungkin sajaada petunjuk. Kisah perjalanan josh ini dikemas dengan sangat bagus dan membuat penasaran.
Selasa, 14 Januari 2014
Minggu, 12 Januari 2014
yang terlihat samar namun terasa jelas
Masih terasa jejak kaki dua insan yang mencoba mengasah hati di bawah untaian rasi bintang. Ada rasa dibalik setiap kata. Dua manusia yang sedari tadi memulai percakapan dengan hati hati. Memulai setiap detik dengan rasa yang terasa begitu kuat namun terlalu indah jika keluar terlalu banyak. Rasa yang tak biasa, yang coba mereka artikan dengan logika. Rasa yang semakin bertambah detik demi detik. Rasa yang memaksa untuk tak dapat berpaling.
Lelaki itu bernama Doni. Dengan kaos abu-abu yang terlihat sekali berumur lebih dari lima tahun, celana jeans yang entah itu berwarna apa dan lengkap dengan kacamata yang membuatnya semakin menawan. Wanita itu bernama Lisa. Dengan kemeja flanel warna peach, celana jeans berwarna abu abu dan sepatu bertali putih. Dua orang ini sedari tadi hanya terduduk di bangku taman di sudut kota. Dua orang yang telah terlalu mengenal satu sama lain. Bahkan tanpa berkata pun dua orang ini dapat tertawa bersama. Lampu taman masih mau menyala untungnya ketika jam tangan telah menunjukkan tengah malam. Doni dan Lisa masih saja enggan untuk meninggalkan tempat duduk mereka. dengan berbekal satu bungkus kacang kupas dan dua botol kopi dingin dua orang ini menghabiskan malam bersama. Kota ini begitu ramai. Pada jam begini saja masih banyak orang berlalu lalang. Entah menuju ke suatu tempat, atau kembali dari tempat kerja untuk beristirahat di rumah.
" Lama rasanya gak kayak gini. ngobrol lama sama kamu, makan kacang ditaman, kopi ditangan. haha kayaknya udah lama banegt ya kita gak ketemu lis " Doni memandang ke arah Lisa dengan takjub. Anak perempuan ingusan yang dulu selalu mengajaknya bermain pasir di taman, kini menjadi wanita yang sangat cantik. Lampu taman jelas menunjukkan keelokan wajah Lisa. Rambut panjangnya yang diikat asal, wajahnya yang tak berpoles apapun. Alami. Seperti alam indah yang tak terjangkau siapapun.
" Haha iyalah don. udah lamaa banget. lihat aja wajahmu, udah tua gitu. tapi tetep gak berubah, kaca mataanya masih aja tebel hahahah " Lisa menjawab dengan tawa renyahnya. Masih sama.
" Tau gak sih lis kalau kamu itu gak berubah. Tetep aja cuek kayak gini. Penasaran deh siapa nanti orang yang bisa ngerubah lisa yang cuek jadi cewek yang perhatian. " Celetuk Doni asal. Lisa terdiam sejenak. Berfikir. Matanya memandang kesatu titik. Kosong tapi terlihat sekali jika sedang berikir. Alisnya sedikit mengekerut dan bibirnya seperti menggungamkan sesuatu, palan sekali. Tak terdengar jawaban dan tanda tanda bahwa Lisa akan menjawab. Doni terkejut. Apakah dia salah mengajukan pernyataan.
" Menurutmu cewek itu harus gitu ta, Don? erhatian, gak cuek? gak boleh kayak gini aja ya ? " Akhirnya Lisa pun bersuara. Doni bukannya lega, dia kebingungan menjawab pertanyaan Lisa. dia tak pernah tahu jawaban itu. Karena dia tak pernah memikirkan hal seperti itu.
" Gak tau. yang aku tau, biasanya kayak gitu. Gak pernah mikir juga " Doni memilih menjawab jujur, tak ingin menalar terlalu jauh jawaban yang terlalu rumit pikirnya
" Aku cuma mau kayak gini don. gak mau berubah. gak boleh ya? " Pertanyaan Lisa semakin diperjelas. Dia ingin Doni menjawabnya dengan jelas.
" Boleh aja lah lis. terserah kamu. Namanya kan hidup kamu " Jawab Doni seakan ingin menyudahi percakapan ini.
Lampu taman mulai redup. Jam tangan juga sudah menunjukkan hampir dua pagi. Tak ada tanda tanda mereka akan beranjak dari bangku tersebut. Doni dan Lisa masih memendam kata. Sesuatu yang terlihat samar akan tetapi sebenarnya terasa jelas. Hanya menunggu siapa yang akan bicara pertama. Yang berani mengadu hati pada kenangan bertahun tahun yang mereka bina. Tanpa paksaan, Tanpa ikatan, yang ada hanya tawa renyah yang selalu mereka banggakan.
" Lis, jangan berubah ya. gini aja. " Doni mulai khawatir denga Lisa. Dia mendekat, hingga warna bola mata lisa kini terlihat jelas. Dia memiliki mata yang sangat indah.
" Don, kalau suatu saat aku gak tau aku berubah tapi kamu yang tau. Kamu mau negur aku? "
Lisa kembali bertanya, kini mata mereka bertemu. Dalam sekali. Seperti jawabannya sudah jelas. Hanya saja hari itu mereka butuh kepastian.
" Aku akan selalu membawamu kembali lis, entah kamu berubah sejauh apa. Aku masih akan mau mebawamu kembali lis, bukan buat aku. tapi baut kamu yang sekarang aku kenal. buat semua lembaran bertahun tahun yang kita alami. dalam persahabata atau apa ini aku gak tau. Aku akan selalu mebawamu kembali lis " Doni seakan tak dapat menahan semuanya. Bertahun tahun dalam batas yang mereka sebut pertemanan dan kini semua sudah jelas, saat mereka berpisah dan mereka bertemu kembali. Ada rindu yang seakan menggebu gebu namun malu untuk terlihat.
" Aku tau kok, Don " Lisa tersenyum. Senyumnya berbeda. Sangat indah. Bibir tipis merahnya seakan menggambarkan kebahagiaan yang alami. Begitu samar, namun jelas ada.
" Balik yuk. Udah pagi " Doni beranjak berdiri, diikuti oleh Lisa yang hanya mengangguk.
Dua orang ini, akhirnya berjalan pulang. Namun ada suatu sisa yang mereka harus tinggalkan. Di tempat ini dipagi yang dimana orang orang masih terlelap, ada dua insan yang akhirnya mengerti mengapa mereka bersama selama ini mereka mereka dapat tertawa bersama walaupun hati mereka tak mampu tersenyum. Pada akhirnya, mereka tak ingin berubah dan akan kembali pulang bagaimanapun keadaannya.
Lelaki itu bernama Doni. Dengan kaos abu-abu yang terlihat sekali berumur lebih dari lima tahun, celana jeans yang entah itu berwarna apa dan lengkap dengan kacamata yang membuatnya semakin menawan. Wanita itu bernama Lisa. Dengan kemeja flanel warna peach, celana jeans berwarna abu abu dan sepatu bertali putih. Dua orang ini sedari tadi hanya terduduk di bangku taman di sudut kota. Dua orang yang telah terlalu mengenal satu sama lain. Bahkan tanpa berkata pun dua orang ini dapat tertawa bersama. Lampu taman masih mau menyala untungnya ketika jam tangan telah menunjukkan tengah malam. Doni dan Lisa masih saja enggan untuk meninggalkan tempat duduk mereka. dengan berbekal satu bungkus kacang kupas dan dua botol kopi dingin dua orang ini menghabiskan malam bersama. Kota ini begitu ramai. Pada jam begini saja masih banyak orang berlalu lalang. Entah menuju ke suatu tempat, atau kembali dari tempat kerja untuk beristirahat di rumah.
" Lama rasanya gak kayak gini. ngobrol lama sama kamu, makan kacang ditaman, kopi ditangan. haha kayaknya udah lama banegt ya kita gak ketemu lis " Doni memandang ke arah Lisa dengan takjub. Anak perempuan ingusan yang dulu selalu mengajaknya bermain pasir di taman, kini menjadi wanita yang sangat cantik. Lampu taman jelas menunjukkan keelokan wajah Lisa. Rambut panjangnya yang diikat asal, wajahnya yang tak berpoles apapun. Alami. Seperti alam indah yang tak terjangkau siapapun.
" Haha iyalah don. udah lamaa banget. lihat aja wajahmu, udah tua gitu. tapi tetep gak berubah, kaca mataanya masih aja tebel hahahah " Lisa menjawab dengan tawa renyahnya. Masih sama.
" Tau gak sih lis kalau kamu itu gak berubah. Tetep aja cuek kayak gini. Penasaran deh siapa nanti orang yang bisa ngerubah lisa yang cuek jadi cewek yang perhatian. " Celetuk Doni asal. Lisa terdiam sejenak. Berfikir. Matanya memandang kesatu titik. Kosong tapi terlihat sekali jika sedang berikir. Alisnya sedikit mengekerut dan bibirnya seperti menggungamkan sesuatu, palan sekali. Tak terdengar jawaban dan tanda tanda bahwa Lisa akan menjawab. Doni terkejut. Apakah dia salah mengajukan pernyataan.
" Menurutmu cewek itu harus gitu ta, Don? erhatian, gak cuek? gak boleh kayak gini aja ya ? " Akhirnya Lisa pun bersuara. Doni bukannya lega, dia kebingungan menjawab pertanyaan Lisa. dia tak pernah tahu jawaban itu. Karena dia tak pernah memikirkan hal seperti itu.
" Gak tau. yang aku tau, biasanya kayak gitu. Gak pernah mikir juga " Doni memilih menjawab jujur, tak ingin menalar terlalu jauh jawaban yang terlalu rumit pikirnya
" Aku cuma mau kayak gini don. gak mau berubah. gak boleh ya? " Pertanyaan Lisa semakin diperjelas. Dia ingin Doni menjawabnya dengan jelas.
" Boleh aja lah lis. terserah kamu. Namanya kan hidup kamu " Jawab Doni seakan ingin menyudahi percakapan ini.
Lampu taman mulai redup. Jam tangan juga sudah menunjukkan hampir dua pagi. Tak ada tanda tanda mereka akan beranjak dari bangku tersebut. Doni dan Lisa masih memendam kata. Sesuatu yang terlihat samar akan tetapi sebenarnya terasa jelas. Hanya menunggu siapa yang akan bicara pertama. Yang berani mengadu hati pada kenangan bertahun tahun yang mereka bina. Tanpa paksaan, Tanpa ikatan, yang ada hanya tawa renyah yang selalu mereka banggakan.
" Lis, jangan berubah ya. gini aja. " Doni mulai khawatir denga Lisa. Dia mendekat, hingga warna bola mata lisa kini terlihat jelas. Dia memiliki mata yang sangat indah.
" Don, kalau suatu saat aku gak tau aku berubah tapi kamu yang tau. Kamu mau negur aku? "
Lisa kembali bertanya, kini mata mereka bertemu. Dalam sekali. Seperti jawabannya sudah jelas. Hanya saja hari itu mereka butuh kepastian.
" Aku akan selalu membawamu kembali lis, entah kamu berubah sejauh apa. Aku masih akan mau mebawamu kembali lis, bukan buat aku. tapi baut kamu yang sekarang aku kenal. buat semua lembaran bertahun tahun yang kita alami. dalam persahabata atau apa ini aku gak tau. Aku akan selalu mebawamu kembali lis " Doni seakan tak dapat menahan semuanya. Bertahun tahun dalam batas yang mereka sebut pertemanan dan kini semua sudah jelas, saat mereka berpisah dan mereka bertemu kembali. Ada rindu yang seakan menggebu gebu namun malu untuk terlihat.
" Aku tau kok, Don " Lisa tersenyum. Senyumnya berbeda. Sangat indah. Bibir tipis merahnya seakan menggambarkan kebahagiaan yang alami. Begitu samar, namun jelas ada.
" Balik yuk. Udah pagi " Doni beranjak berdiri, diikuti oleh Lisa yang hanya mengangguk.
Dua orang ini, akhirnya berjalan pulang. Namun ada suatu sisa yang mereka harus tinggalkan. Di tempat ini dipagi yang dimana orang orang masih terlelap, ada dua insan yang akhirnya mengerti mengapa mereka bersama selama ini mereka mereka dapat tertawa bersama walaupun hati mereka tak mampu tersenyum. Pada akhirnya, mereka tak ingin berubah dan akan kembali pulang bagaimanapun keadaannya.
2014.
Tahun baru. Semangat baru.
Kembali nulis lagi setelah berhari-hari gak punya ide sama sekali buat nulis apa. Berasa kaku deh semua. di tahun 2014 ini banyak banget harapan yang udah mulai tersimpan dalam hati. mulai dari harapan buat diri sendiri sampai harapan buat orang banyak. bersyukur banget sama Allah sudah dikasih kesempatan ditahun yang baru ini buat ngehirup udara segar dalam kondisi sehat walafiat.
Yang penting, tetap harus nulis walaupun gak ada ide. Tetap harus nulis walaupun tulisan masih belum bisa dibilang bagus. Tetap harus nulis pokoknya :)
Kembali nulis lagi setelah berhari-hari gak punya ide sama sekali buat nulis apa. Berasa kaku deh semua. di tahun 2014 ini banyak banget harapan yang udah mulai tersimpan dalam hati. mulai dari harapan buat diri sendiri sampai harapan buat orang banyak. bersyukur banget sama Allah sudah dikasih kesempatan ditahun yang baru ini buat ngehirup udara segar dalam kondisi sehat walafiat.
Yang penting, tetap harus nulis walaupun gak ada ide. Tetap harus nulis walaupun tulisan masih belum bisa dibilang bagus. Tetap harus nulis pokoknya :)
Langganan:
Komentar (Atom)
