semakin tersiksa jika dirasa
suatu hari dimana kabar tak pernah terdengar
satu kata yang hanya jadi sapaan
perlahan dipertanyakan adanya
rasanya ingin terbang lalu terjatuh
pada lapisan tertipis jarak dan waktu
bahkan selangkah takkan mampu mengubah semua
dan kini hanya menunggu kata yang tepat
bagaimana kini merpati tak lagi menyapa
dia ada. namun tak selalu ada
bukan sepi yang membunuh
hanya rindu yang tak pernah tersampai
Senin, 23 September 2013
Rabu, 07 Agustus 2013
atas bangsa kami
ini jelas bukan tentang bangsa yang dengan gagahnya mengibarkan sang dwi warna
bahkan mungkin ini tak ada dalam hitungan masanya
ini jelas bukan tentang bangsa yang dalam darahnya mengalir semangat yang menggelora
bahkan mungkin kini tak bertepi kembali
jika ini tentang bangsa yang menjerit sedang susah
atau mungkin tentang bangsa yang kini sedang redup bahkan akan mati
yang bertindak kini bukan tentang hati
kami rindu
atas hamparan tanah kami yang subur
atas sapaan lembut embun yang selalu membasahi tumbuhan kami
kami rindu
atas bangsa kami
bahkan mungkin ini tak ada dalam hitungan masanya
ini jelas bukan tentang bangsa yang dalam darahnya mengalir semangat yang menggelora
bahkan mungkin kini tak bertepi kembali
jika ini tentang bangsa yang menjerit sedang susah
atau mungkin tentang bangsa yang kini sedang redup bahkan akan mati
yang bertindak kini bukan tentang hati
kami rindu
atas hamparan tanah kami yang subur
atas sapaan lembut embun yang selalu membasahi tumbuhan kami
kami rindu
atas bangsa kami
yang terlihat jelas tentang hari ini
aku tau kini waktu tak lagi seperti dulu
dia telah pergi sedikit demi sedikit
memberi alasan bagaimana aku harus tetap bertahan
bukan saja menanti
namun hidup adalah tentang mencari
seperti kancil
yang tak pernah kehilangan akal
aku tau kini bulan tak mampu bersinar terang
bagaimana secercah harpan tentang malam
kini akan mulai hilang tanpa jejak
seperti sajak yang terhenti tak bertuan
seperti asa yang mengalir tanpa tujuan
dia telah pergi sedikit demi sedikit
memberi alasan bagaimana aku harus tetap bertahan
bukan saja menanti
namun hidup adalah tentang mencari
seperti kancil
yang tak pernah kehilangan akal
aku tau kini bulan tak mampu bersinar terang
bagaimana secercah harpan tentang malam
kini akan mulai hilang tanpa jejak
seperti sajak yang terhenti tak bertuan
seperti asa yang mengalir tanpa tujuan
Rabu, 12 Juni 2013
Kembali tersenyum dengan secercah hati nurani
Satu hal yang aku dapat lihat dari raut wajah kecil nan mungil seorang gadi kecil dengan bandana merah jambu menghiasi rambut indahnya. Dengan gaun yang begitu sederhana. Gadis kecil itu melenggok dan tertawa lepas bersama teman sebayanya. Gadis kecil itu mengingataknku tentang hampir 16 tahun lalu ketika aku pun masih menjadi seorang gadi kecil dengan bandana merah muda. Waktu berjalan begitu cepat, hingga aku tak sadar jika telah cukup lama dan menjadi sebesar ini terasa begitu cepat. Masih jalas terasa atmosfir yang sama aku rasakan ketika aku masih saja seumurnya. Hidup terasa lebih mudah dan mungkin yang akan menjadi masalah terbesar adalah ketika aku tidak dapat mendapatakan permen saat aku sangat menginginkannya.
Kini aku terduduk di tribun, memandangi raut wajah dan mendengar tawa renyah dari insan mungil yang mungkin memiliki hal yang tak serupa denganku. Aku begitu menyukai anak kacil, bagaimana mereka dapat tertawa lepas setelah menangis meraung. Bagaimana mereka jujur dan sangat polos sampai kain putih belum ternodai dengan tinta hitam. Terdengar suara pembawa acara sedang memanggil penampilan selanjutnya dari anak-anak manis ini. ini adalah acara dimana setiap anak berhak berkreasi dan menampilkan bakatnya. Senyum yang tulus terlihat dari wajah mungil mereka. hidup terasa akan lebih mudah ketika kamu melihat orang lain tersenyum kepadamu kan?
Ini bukan kali pertamanya aku mendatangi acara seperti ini, namun tetap saja aku merasa sangat bahagia melihat kejujuran dibola mata setiap anak ini. Ada kesenangan sendiri yang aku rasakan ketika berada dalam atmosfir tempat ini. Ada keceriaan tersendiri yang aku melihat mimpi-mimpi mereka yang tergantung. Begitu banyak hal yang membuatku begitu terenyuh ketika dihadapkan pada anak kecil seperti ini. Terima kasih telah mengisi hari minggu ini dengan senyum tanpa henti.
Terima kasih pasa SSCS yang telah mengadakan acara seperti ini.
Terima kasih adik adik yang membuat saya mengerti tentang bagaimana seseorang harus tetap tersenyum karena itu akan membuatnya lebih baik :)
Kini aku terduduk di tribun, memandangi raut wajah dan mendengar tawa renyah dari insan mungil yang mungkin memiliki hal yang tak serupa denganku. Aku begitu menyukai anak kacil, bagaimana mereka dapat tertawa lepas setelah menangis meraung. Bagaimana mereka jujur dan sangat polos sampai kain putih belum ternodai dengan tinta hitam. Terdengar suara pembawa acara sedang memanggil penampilan selanjutnya dari anak-anak manis ini. ini adalah acara dimana setiap anak berhak berkreasi dan menampilkan bakatnya. Senyum yang tulus terlihat dari wajah mungil mereka. hidup terasa akan lebih mudah ketika kamu melihat orang lain tersenyum kepadamu kan?
Ini bukan kali pertamanya aku mendatangi acara seperti ini, namun tetap saja aku merasa sangat bahagia melihat kejujuran dibola mata setiap anak ini. Ada kesenangan sendiri yang aku rasakan ketika berada dalam atmosfir tempat ini. Ada keceriaan tersendiri yang aku melihat mimpi-mimpi mereka yang tergantung. Begitu banyak hal yang membuatku begitu terenyuh ketika dihadapkan pada anak kecil seperti ini. Terima kasih telah mengisi hari minggu ini dengan senyum tanpa henti.
Terima kasih pasa SSCS yang telah mengadakan acara seperti ini.
Terima kasih adik adik yang membuat saya mengerti tentang bagaimana seseorang harus tetap tersenyum karena itu akan membuatnya lebih baik :)
Minggu, 09 Juni 2013
Tanya Tentang Gadis Kecil
Bukankah
rasanya seperti embun yang tenang kemudian terhanyut? Kembali pada kata yang
dulu pernah ada namun tak sempat terucapkan. Adakah malaikat kecil yang
bergeming membisikkan cerita tentang gadis kecil yang menanti sebuah kereta
kencana? Lalu kemudian adakala sesuatu
hanya akan menjadi sesuatu. Rasa yang begitu ada dan sangat menyesakkan.
Seperti kehabisan udara. Ada sesuatu yang tertahan dan terpaksa untuk terhapus.
Terpendam dalam kotak mainan yang dipendam dengan hati yang berat. Dan kemudian
terhuyung oleh hembusan angin yang melekukkan pada sang dewa. Dewa berbisik
pada purnama. “ Adakah seseorang yang selalu menunggu di persimpangan kota yang
gelap tanpa kata?” “ada,” raut wajah
purnama kini tak dapat berbohong atas kata tak pernah rampung dalam barisan
kalimat. Dalam sonata yang tak pernah hilang. “ Adakah dia seorang gadis?
Berhati emas dan berwajah rembulan? ,” kini tetes embun kembali menguak sebuah
cerita. Tentang bagaimana rasa yang tersapu dengan waktu serta bagaimana cerita
dibalik sebuah pengorbanan dan penantian panjang tanpa perhatian. Laba-laba
kecil yang menari diatas rumahnya tiba tiba berhenti pada tetes embun yang
kesekian yang dia temui. Dan kembali berjalan ketika menyadari sesuatu. Adakah
seseorang ingin semuanya terkesan terlambat? Adakah semua harus memperlihatkan
kartunya sebelum semuanya rampung dalam penerjemahan? Adakah rasa yang
terburu-buru kemudian berhenti pada satu sudut berselimut sepi dalam sisi ruang
kehampaan? Adakah semua pertanyaan itu ada jawabnya?
Selasa, 21 Mei 2013
Sapa Dalam Jingga
Sekumpulan
kunang kunang terbang mengiringi malam yang semakin larut. Aku terduduk diam
dalam lamunan yang berlalu. Tempat ini masih sama dengan yang dulu. Tempat
dimana kata yang tak pernah terucap harus rela terbelenggu. Tempat dimana semua
kenangan menjadi satu kemudian kelabu. Lampu taman yang menghiasinya, tak
pernah berubah dan selalu meredup jika malam tak bersahabat. Bunga bunga yang
dahulu masih kuncup, kini tampak bermekaran. Ada cerita yang masih tersimpan
dalam ingatan tentang beberapa tahun yang lalu. Saat sosok yang kini entah
kemana, masih menggenggam lembut jemari dalam kehangatan.
---
“
Hai sudah lama menunggu ya? “ sapanya dengan senyuman yang membuat siapa saja
pasti akan terpana.
“ Hai! Tidak, aku baru saja sampai disini, duduklah. “ kataku dengan
membalas senyuman hangatnya.
Hari ini, adalah hari dimana kita menyempatkan
waktu untuk bertemu, berbagi cerita dan
menghabiskan waktu bersama. Dengan dandanan yang sangat aku kenal dan dengan
bau harum yang sama, dia selalu mempesona. Detik demi detik kami lalui, tak ada
yang mengerti bagaimana sampai saat ini kami masih selalu tertawa bersama,
bagaimana hanya dia yang selalu membuat aku rela meninggalkan semua kegiatanku
hanya untuk bersamanya, dan bagaimana kami masih dapat menikmati dunia ketika
dunia sedang tak bersahabat.
Kami
duduk di sebuah taman di sudut kota. Memanglah tidak mudah, menemukan taman
seindah ini di kota metropolitan yang terkadang membuatku terbelenggu dengan
segala asap dan hiruk piruk jalanan. Taman ini selalu menjadi tempat kami
berbagi cerita, entah tentang hari yang cukup melelahkan, atau hanya tentang
burung hantu peliharaannya yang dia sangat sayangi. Pembicaraan hari ini
terlalu terpusat dan terlalu serius buatku. Aku selalu senang membicarakan
banyak hal padanya tentang apapun. Namun tidak untuk kali ini, hati kami tak
halnya lebih banyak berbicara dari pada lidah kami yang serasa menutup seperti
bunga- bunga yang masih mengantup. Hari ini memanglah tidak dapat dikatakan
hari yang dapat membuat aku terseyum seharian, seperti yang biasa dia lakukan.
Hari ini jika bisa, aku hanya ingin menangis dengannya, aku hanya ingin menikmati
senyumnya sekali lagi, menikmati setiap detik yang dia hadirkan dalam setiap
langkah kecilku.
“
Maaf ya, aku tidak bisa menolak. Rasanya aku ingin tetap menikmati indahnya
bunga di taman ini, namun aku memang harus pergi. “ ucapnya, kali ini dia
memperlihatkan ketika dia benar benar ingin tinggal.
Begitu pun aku selalu ingin kamu di sini.
Aku hanya dapat tersenyum tipis,
tipis sekali hingga mungkin dia tidak dapat melihatnya. Aku selalu ingin dia
dapat mengejar impian yang selalu dia dambakan. Aku memanglah bukan siapa siapa
untuknya, hingga aku tak dapat menahannya untuk pergi, bahkan ketika aku
mengais meminta dia tetap tinggal.
“
Ada hal yang perlu aku sampaikan. Aku ingin kamu dapat menjaga dirimu dengan
baik, jangan nakal ya, jangan lupa untuk mengisi perutmu. Jika kamu butuh tempat
untuk bercerita, hubungi saja aku, tapi mungkin tidak dapat sedekat ini lagi.” Kali
ini, dia benar benar membuat air mataku terjatuh. Aku tak tahan dengan setiap
kata yang ia lontarkan tadi. Aku masih sangat membutuhkannya, aku membutuhkan
lenteraku disaat kegelapan menyergapku.
“ Rasanya, aku
ingin menahanmu di sini. Jika mampu aku ingin
menutup setiap jalan untuk keluarmu dari negara ini. Namun aku tau,
inilah harapan yang selalu kau ceritakan. Aku bahagia karenanya, sungguh.
Sahabat terbaikku, aku harap kamu dapat bertahan di sana. Aku selalu akan
merindukanmu, merindukan setiap langkahmu. Aku harap kita dapat selalu berbagi.
“ Aku berusaha menguatkan diriku sendiri, agar air yang sedari tadi mengalir
seperti tak tahu diri dapat berhenti.
Dia
mulai menunjukkan kelembutannya, kali ini
air mukanya berubah menjadi sangat khawatir.
---
Tahun
ini, tepat lima tahun taman ini berganti seperti tamanku sendiri, taman yang
dahulu selalu aku habiskan dengannya entah kini hanya ada aku yang sendiri.
Entah sedang apa dan bagaimana keadaannya disana. Tempat dan waktu memisahkan
kita sekitar tujuh jam dan itu selalu menyiksaku. Sesak semakin menyatu dengan
tubuhku, apabila kini aku mengenang setiap lembut sapanya. Bagaimana aku dapat
tak bisa melupakan hari hari penuh dengan tawa renyahnya dan entah mengapa
setiap hariku masihku sempatkan berada di taman ini agar semua terasa baik-baik
saja.
Otakku
bergeming penuh dengan kata dan sapa padanya. Lima tahun yang berjalan dengan
lambat, harus tetap menyiksaku dengan hari hari berikutnya. Entahlah, aku hanya
merasakan dirinya selalu menemani disampingku dan menyapaku dalam hangat. Peri-peri seolah berbisik bahwa aku harus
lupa saja, namun ribuan bulan di langit dan ketenangan bulan selalu
mengikatkanku, bahwa aku hanya ingin dia. Itu saja. Kembalilah. Aku mohon. (la)
Kamis, 28 Maret 2013
Pemuja Yang Bertepi Dalam Diam
Langit
masih saja menunjukkan birunya yang membuat siapa saja jatuh cinta. Mungkin
kini seseorang sedang menunggu datangnya hujan hingga dia dapat menari bebas
dan mengecup embun embun dedaunan atau mungkin ada seseorang lainnya yang
mengucapkan doa dalam keheningannya agar hujan tidak membasahi bumi, hingga dia
tidak tersiksa dalam keadaan sepi. Bagaiman bisa aku menjatuhkan diri pada
seseorang diantara keduanya? Dan masihkah dapat ku cari sosok yang benar benar
ingin memeluk hujan namun dapat memecah keheningan?
Aku
hanya dapat melihatnya dari belakang, melihat punggungnya, dan sesekali
mendengarkan suaranya bercerita ataupun menanyakan bagaimana keadaanku. Bahkan
aku baru sadar bola matanya begitu indah dan bulat saat aku memberanikan diri
untuk menatap wajahnya saat dia kehabisan tenaga. Aku menyukai setiap sudut
pandang dirinya. Entah itu bola mata yang sampai saat ini selalu
menghantui pikiranku hingga setiap lagu
yang pernah dia senandungkan. Bagaimana sosok sederhana ini selalu membuatku
terpesona. Namun, bagaimana aku bisa merengkuhnya dalam kedinginan jika
akhirnya aku hanya dapat menahan diri untuk menjadi penonton setia dalam jarak
yang kesekian. Dalam jarak yang aman agar dia tidak menyadari betapa
sesungguhnya aku hanya ingin menikmati setiap simfoni yang seperti mengalir
jika dia berbicara bahkan ketika dia tertawa renyah. Aku menyukai setiap helai
kain yang ia gunakan entah itu berwarna indah sesuai dengan warna yang kusuka
atau bahkan dengan warna yang aku sangat tidak suka. Entah mengapa, ia tetap
terlihat sempurna. Entah mengapa kini aku menikmati duduk terdiam di pojok
ruangan dan mungkin sesekali melontarkan kata yang membuatnya tertawa. Aku
bahagia mendengarkan setiap tawanya dan sesekali aku memandang ke dalam dua
bola mata hitam dan bulat sempurna. Entah insan apa yang telah Tuhan ciptakan
ini, mengapa engkau begitu terlihat mempesona untukku?
Aku
sering berharap jika pada akhirnya hujan menghentikanmu sejenak. Hingga aku
dapat lebih banyak mengamatimu dan lebih dapat mengenalmu. Atau hanya sekedar
menikmati aromamu. Hujan membuatku kedinginan, sungguh. Tapi aku begitu
menyukainya, bagaimana Tuhan menciptakan suasana yang begitu damai hingga aku
dapat mendengarkan lambaian hembusan angin sejenak. Aku tak terlalu peduli
berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk bersama denganmu. Tak mengapa jika
hanya bertukar sapa atau kita dapat membuat percakapan yang membuatku begitu
bahagia. Suaramu yang selalu membuatku tertegun dan membuatku segan.
Menjadi
pengamat tidaklah mudah, aku harus benar benar menghapuskan jejakku jika kau
telah mulai menyadarinya. Aku ingin tetap seperti ini. Dapat mendengarkan
tawamu saja sudah lebih dari cukup. Menikmati keindahanmu dari sisi belakang.
Dan sungguh, aku mulai sangat menyukaimu, dalam diam.
Kamis, 21 Maret 2013
Simfoni Hati yang Selalu Menunggu (part 1)
Dia
masih terdiam dalam lamunan. Di balik kaca jendela yang berlapiskan kain putih
itu dia menyandarkan diri. Memandang ke luar tanpa tau sebenarnya apa yang dia
liat. Matanya seperti menerawang pertanda apa yang akan datang. Menerawang apa
yang telah terjadi dan dia hanya memilih menyimpannya dalam hati. Dimana
kamu lenteraku? Kemana perginya kamu? Apa kamu sedang duduk di taman favoritmu
untuk menghabiskan waktu? Aku ingin menemuimu lenteraku. Dalam gelap dan
sepiku.
----
Langit
masih menunjukkan cerianya. Matahari seperti tepat berada di ubun ubun sampai
dia memercingkan matanya hingga hanya nampak seperti segaris. Dia menungu di
depan halte sekolah seperti biasanya, tidak ada yang spesial untuk hari ini
baginya. Halte itu lenggang, hanya nampak seorang yang sedari tadi duduk
kelelahan dan kepanasan di sebelah gerobak baksonya. Wanita itu tampak tidak
kuat dengan panasnya kota pahlawan ini. Kulitnya yang kuning langsat memang tak
pernah menghitam sampai dia harus memakai krim para wanita wanita yang ingin
kulitnya nampak begitu cerah. Dia alami. Seperti percikan air dalam sungai. Senyum tipisnya
nampak ketika dia melihat angkutan kota yang sedari tadi telah ditunggunya. Ah akhirnya.
Dia
duduk di barisan paling belakang yang dekat dengan jendela. Itu memang tempat
favoritnya. Dia membuka jendela lebar lebar hingga udara dapan masuk dan
memenuhi isi angkutan kota itu. Dia duduk dengan tenang sedari melihat ke luar
jendela dan menghirup udara dalam dalam. Angkutan itu tidak penuh, hanya ada
tiga orang termasuk wanita yang terlihat menikmati perjalanan pulang yang tidak
dapat dikatakan sebentar. Tiba tiba telepon genggamnya berdering, dia terlonjak
terkejut dengan getaran yang dihasilkan satu pesan masuk itu. Tampak jelas nama
‘ Alfa ‘ . dia tersenyum tipis kembali. Senyuman itu hanya segaris namun mampu
membuat siapapun yang melihatnya akan merasa terbang sesaat. Dibukalah pesan
yang sedikit mengganggu keasyikannya bercengkrama dengan udara kota ini.
Dari : Alfa
Pesan : Test
Apa apaan si Alfa ini
pesannya gak penting banget. Namun wanita itu masih tetap ingin untuk
membalas seadanya.
Balas : Hai
Dia melanjutkan keasyikannya menghirup dalam dalam udara dan
mengalirkannya diseluruh bagian tubuh. Dia selalu melakukan itu. Menikmati
setiap hembusan yang dapat dia hirup saat dalam keadaan apapun. Angkutan itu
berjalan dengan lambat. Bahkan jika diadu dengan orang berjalan saja, orang itu
pasti akan berada di posisi depan. Setiap mata yang memasuki angkutan itu tidak
melepaskan pandangannya pada satu sosok wanita di ujung baris duduk di pinggir
jendela. Dia memang seperti bebas jiwanya. Jujur dan tak peduli dengan apapun
yang memintanya untuk menghentikan setiap ritual syukurnya untuk menikmati
kenikamatan udara dari Tuhan. Getaran dari ponsel genggamnya pun akhirnya dapat
menghentikannya sejenak. Pesan dari alfa
lagi. Batinnya.
Dari : Alfa
Pesan : Hai juga udah
pulang ta?
Tak mau kehilangan suasana ritual menghirup udaranya, dia
pun membalas pesan singkat itu dengan cepat.
Balas : Dalam perjalanan. Kenapa?
Nampaknya Alfa sedang ingin mengganggu ritualnya sejenak.
Setelah beberapa saat mereka duduk bersebelahan, akhirnya Alfa membuka pintu
hubungan kedua belah pihak yang jauh berbeda ini.
Alfa. Yang sedang duduk di sebuah
taman di dekat rumahnya. Yang menikmati indahnya kupu- kupu dan bunga-bunga di sampingnya.
Dia begitu menikmati saat-saat paling menenangkan untuk hidupnya. Menghirup
udara di tengah taman dan sejenak melepas lelah dari kota metropolitan. Ada
sesuatu yang ia pendam namun tak bisa ia kendalikan. Ia terpaku pada satu sosok
yang beberapa hari ini membuatnya selalu tersenyum. Sosok yang hanya bisa dia nikmati dari samping namun tak bisa dia
rengkuh. Sosok yang bebas dan selalu menarik. Di balik kaca mata yang
berganggang hitamnya seseorang itu
mengalihkan dunia Alfa.
Alfa mengirim sebuah pesan singkat kembali. Pesan
itu memang sangat singkat dan sederhana. Namun, dibalik kesederhanaannya.
Tersimpan banyak makna. Alfa membutuhkan waktu 30 menit untuk mengirim pesan
pertama. Seseorang yang berada jauh di
sana. Yang seolah menjadi pelangi walaupun
langit tak bersahabat. Membuatnya selalu berfikir apa yang harus
dilakukan oleh Alfa untuk dapat sejenak memandang kedua bola matanya. Menikmati
senyumnya. Memasuki dunianya.
Dari : Alfa
Pasan : Gapapa, cuma tanya. Nggak ganggu kan tan?
Kintan.
Melihat cakrawala dengan mata yang berbeda. Melihat dunia dari jendela yang
hanya dia yang mengerti. Dia aman. Dalam kaca yang melindungi dia dari badai
yang sangat tidak dia harapkan. Dia jiwa yang bebas. Terbang seperti kupu-kupu
yang terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah dengan cara apa kupu-kupu kecil
yang rentan dan rapuh tiba tiba terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah kenapa pelangi
selalu ada dalam hari-harinya.
Balas : Oh, Enggak kok.
Perbincangan
panjang mereka pun dimulai. Alfa lah yang menjadi biangnya. Bagaimana dia
meluluhkan Kintan yang seperti embun namun sukar untuk direngkuh. Kintan yang
selama ini liar dalam pikirannya kini mampu menyapa dunia dengan lembut dan
hangat. Entah Alfa sadar atau tidak, pesan singkatnya pada hari itu mengubah
hidup Kintan. Dua insan yang berbeda. Alfa dengan segala ketidakpastiaanya dan
Kintan dengan segala hal yang pasti. Ada rasa yang terselip, ada bintang yang
menyapa dan ada hasrat dalam kata. Perbincangan yang tak biasa. Perbincangan
yang menjadi zona nyaman mereka berdua.
Perbincangan yang menciptakan rasa. Sangat luar biasa.
Langit
seperti sangat bersahabat. Tak menandakan akan turun hujan dan sinarnya terik
matahari tak terlampau menyilaukan. Langit mengerti jika ada dua insan yang
ingin sejenak terhenti. Terhenti dalam asa mereka, dalam dimensi yang hanya
mereka pahami. Tanpa kicauan merpati yang berirama tanpa henti. Mereka ingin
jauh dari kota bising yang dipenuhi tikus-tikus penipuan. Gudang dari
pertentangan. Dunia bagi orang orang tak berhati. Lupa dengan hati yang rasanya
rentan jika harus tersakiti. Dunia ini telah berputar seperti mati. Berputar
hanya dalam satu sisi. Yang menjadi mayoritas yang akan berpengaruh. Yang
minoritas? Hanya menunggu dalam kotak mainan. Menunggu dirinya diputar oleh
anak kecil dalam lamunan. Memasuki dimensi anak-anak yang tak pernah mati.
Untuk mengerti bagaimana kepolosan dan
kesederhanaanlah yang berarti segalanya.
Embun pagi
masih terlihat menyapu dedaunan namun sosok itu telah menunggu di depan pintu.
Sosok yang menjadi lamunan dalam kerinduan malam, sosok yang mengubah segalanya
menjadi lebih ceria dan sosok yang berada dalam hati yang kesepian. Dalam
busana klasik yang mengundang setiap mata untuk sedikit melirik. Dalam jaket
berwarna abu-abu kesayangan dan kaos
berwarna putih dengan tulisan kecil yang bersahabat. Tak ada yang istimewa.
Hanya saja dia sempurna. Tentunya bagi sosok wanita yang menantinya dalam diam.
Hanya berbicara lewat hembusan angin dan sapaan halus. Mereka selalu mengerti
satu sama lain, walaupun tak banyak kata rindu terucap. Namun mereka berdua tau
mereka selalu saling merindukan. Wanita itu masih termenung di depan kaca.
Melihat gaya busananya yang dikenankan untuk bertemu seseorang yang berhasil
membuat dia merubah segalanya. Dalam balutan gaun santai yang dia kenakan. Dia
terlihat sangat manis. Bermotif polos dan berwarna lembut dengan pita kecil
menjadi aksen yang menarik. Memakai sepatu tak ber-hak yang sangat lucu dangeraian rambut
sebahu dengan senyuman segaris yang sangat menawan. Dia melihat lagi
keseluruhan bentuk tubuhnya. Apakah dia terlihat spesial hari ini atau justru
terlihat memuakkan. Jiwanya kini tak sebebas dulu. Kini ada seseorang yang
telah merengkuh sedikit jiwanya tanpa mengurangi daya tariknya. Ada yang
menjadi sandaran jiwa yang bebas, kini dapat beristirahat sejenak.
Minggu, 10 Maret 2013
Sonata Hujan
Dia. Seseorang yang setia menanti di balik rasa
lelah. Seseorang yang selalu menanti kabar dan mencari keberadaanku. Entah
mulai kapan dia mulai menjadi orang yang pertama berada di otakku saat
aku membuka mata. Memandang senyumnya saat dia menatap lekat kedua bola
mataku selalu membuatku mengembangkan senyum dan membuat hariku lebih baik.
Dapatkah dia selalu mendekapku saat rintik hujan mendera? Ataukah dia
akan melepaskanku saat badai menghantam?
" Kamu sudah berapa lama disini? Maaf ya aku lama "
kataku. Dia mengecup keningku. Lembut. Hangat.
" Ah nggak, baru aja kok. Kamu capek ya? Keringatnya tuh
" jawabnya dengan senyumnya yang hangat dan belaian lembut mengusap
kepalaku. Aku seperti anak
yang bertemu dengan ayahnya.
" Iya. Latihannya berat nih hari ini. Maaf ya buat kamu
nunggu " Aku begitu menikmati keindahan air mukanya saat dia mulai
memperhatikanku seperti ini. Entahhlah. Bagaimana dia bisa seindah ini ketika
matahari telah menjelma sebagai bulan. Aku sangat menikmaati keadaan seperti
ini.
" Yuk, nanti keburu malam loh. Kamu juga harus istirahatkan
kan? " Kecupan lembut itu kembali dihantarkannya. Aku hanya tersenyum
kepadanya dan menaiki sepeda motor yang sedari tadi menunggu kami.
Aku selalu menikmati perjalanan pulang
bersamanya. Entah karena aku dapat sekedar melepas lelah dibahunya atau karena
dialah yang membawaku menembus angin malam dengan hangat. Aku membayangkan
bagaimna jika hujan membuatnya terhenti. Bagaimana jika hujan membuat kita
terpisah. Tersiksa. Dua jiwa
yang harusnya menyatu tiba-tiba terpisah dengan rintik hujan. Dapatkah aku
melewatinya?
"
Tadi ngapain aja? cerita dong ke aku " Tangannya menggenggam lembut
tanganku yang memegang erat jaketnya. Mengharap kehangatan dari matahariku ini
membuatku lebih tenang dan menghilangkan peluhku.
" Latian fisik. Lari dan ya seperti biasanya itu, tapi aku
udah mulai manja sekarang. Sering gak kuat. Lemah ya aku? " aku menjawab
seenaknya.
" Siapa sih yang bilang kamu lemah? kamu cuma butuh istirahat
kok. Istirahat yang banyak ya? kalau udah nggak kuat berhenti loh ya " Aku
mengamati parasnya dari kaca spion motor. Betapa hangat dan lembutnya wajah
indah ini.
Aku terpaku. Seperti
layaknya anaknya kucing aku selalu ingin dimanja. Tiba-tiba air hujan
menghantam kami. Aku menyukai hujan. Menyukai semua tentangnya. Tentang baunya
dan tentang kenangan yang ditinggalkan olehnya.
“ Kita berhenti sebentar ya, pakai jas hujan “ katanya, singkat.
Tuhan jangan hentikan hujan ini. Mungkin aku
tidak akan merasakan hujan seperti ini lagi. Bersamanya. Adakala kami berbisik. Adakala kami
teriak. Namun adakala disaat kami tak tau apa yang harus kami lakukan. Adakala
disaat kami hanya inign bersandar ditempat kami berpijak. Aku tak ingin
meninggalkannya. Sungguh. Kata demi kata telah aku rangkai dalam beberapa
tulisanku agar dia selalu dapat mengenalku. Mengenangku yang setidaknya pernah
menjadi seseorang yang utuh baginya. Sorot mata itu, yang memabukkanku dan selalu
membuatku melayang. Kini ada dihadapanku, Di bawah hujan. Dia begitu bersinar
dan membuatku utuh. Kini dia menatapku lekat. Seperti bertanya. Namun tak
menemukan jawabnya. Mata kami beradu, dia bertanya dan aku mengalihkan
jawabannya. Aku mengalah. Tatapanku terlalu lemah jika dibandingkan dengan
tetapannya. Aku menunduk dan dengan cepat dia membuatku terjaga. Dia memelukku
dengan hangat. Di bawah hujan.
“ Kamu kenapa? Kamu kedinginan? Maaf ya harusnya aku tidak
membuatmu hujan hujan “ bisiknya. Tuhan,
sekali lagi aku hanya mohon engkau jaga dia. Entah dalam pelukan siapa. Tapi jagala
dia seperti dia menjagaku seperti ini.
“ Aku gak kenapa kenapa “ Aku tidak bisa menahan isak tangisku. Aku
ketakutan. Ku rengkuh tubuhnya lebih dalam hingga aku dapat merasakan detak
jantungnya. Dia sepertinya mengerti jika aku dalam fase yang mungkin buruk
baginya. Dia mendekapku dengan lembut dan hangat. Aku mendengar dia mulai ikut
menangis. Isak tangisnya terasa jelas ditelingku, walaupun aku yakin dia telah
menahan air matanya. Dia mendekapku dengan sangat erat seperti tak mau aku
melepaskannya.
“ Kamu jangan pergi “ bisiknya pelan. Lirih, hampir tak terdengar.
“ Aku takut. “ Kini air mataku tak tertahankan lagi aku mulai
menangis seperti anak bayi. Air hujan masih menyelimuti kami. Tak ada tanda jika
dia akan berhenti.
“ Aku sudah tau semuanya sayang. Tenang, ada aku. “ air matanya kini
mulai membasahi rambutku yang sedari tadi dibelainya dengan lembut.
Tuhan, mungkin kini waktuku telah habis
untuk mendekapnya seperti ini. Namun izinkan aku meminta padaMu. Tuhan, berilah
dia kebahagiaan yang dia harapkan. Jaga dia seperti dia menjagaku. Dekaplah dia,
jika dia mulai menjauh dariMu. Berikan dia kesehatan yang selalu membuatnya
dapat mengejar semua mimpi-mimpinya. Tuhan, kini embun tak dapat ada setelah
hujan. Kini tak ada sapaan halus dan lembut yang membelai hati. Kini pelangi
tak ubahnya hanya pantulan warna tanpa arti sebenarnya. Namun Tuhan, bisikkan
selalu rinduku untuknya.
Senin, 25 Februari 2013
selamat malam, ksatria
Aku bertanya tentang dongeng yang selalu aku baca setiap malam, pada suatu hari ada seoarang ksatria yang jatuh cinta pada sang putri, sang putri berada jauh hingga ksatria tak dapat menggapainya. Namun cinta ksatria tak pernah menyerah. Dia mencoba segala cara untuk pergi ke tempat putri berada. Suatu hari ada bintang jatuh yang menawarkan diri untuk membawa ksatria menuju putri. bintang jatuh berkata bahwa resiko tertinggi adalah ksatria dapat tidak selamat. Cinta ksatria terlalu besar, ksatria mengorbankan nyawanya hanya untuk memandang langit dari tempat putri berada. Ksatria setuju. Akhirnya ksatria dapat melihat sang putri, hingga akhirnya saat itu tiba. Ksatria terjatuh dan putri tidak dapat melakukan apapun. Di bawah, bintang jatuh menangkap ksatria secepat mungkin dan menolongnya.
Selamat malam ksatriaku, apakah kamu masih memandang bintang yang sama denganku? Aku masih disini, memandangi bintang yang dulu selalu menjadi penyampai rinduku dalam lamunan. Belaian lembut angin malam masih menemani acaraku malam ini. Tak ada yang berbeda. Hanya saja, kini sosok yang selalu ku selipkan rindu, yang selalu hadir dalam ucapan doaku, yang selalu menjadi alasan dan jawaban dari semua tanda tanya, kini telah menghilang. Ksatria, apakah rindu yang kutitipkan sampai kepadamu? secercah hati yang kau sisakan kini telah menjadi biang yang membuatku semakin tak dapat melupakanmu.
Ksatria, semua lukisan tentangmu masih terlihat jelas olehku. adakah aku masih menjadi pengingat untukmu? semua kepingan piring hitam yang kucoba letakkan dalam kotak dan kututup rapat-rapat, pada kenyataanya tidak dapat benar benar menutup, masih ada celah yang membuatku ingin membukanya dan mengintipnya kembali. Aku yang dulu menjadi sapaan dalam lamunan, kini harus puas menjadi pendengar kabar dari orang asing. Ksatria, aku merindukan alunan lagu yang selalu kau nyanyikan dalam kesunyian yang membuatku tertidur pulas hingga pagi menjelang. Aku merindukan ucapan yang selalu tak pernah lupa kau selipkan sebelum mataku terlelap. Aku selalu merindukanmu. Bayangmu selalu menemaniku disini. tenanglah, aku tak pernah berniat mengusik segala ketentramanmu kini. Aku mengenalmu terlalu dalam, terlalu jauh, terlalu dekat. hingga aku mengenal bagaimana harus berhenti dan berterus terang kepadamu. Ksatria, Aku mengantarmu dalam bahagiamu, menemani dalam tangismu, mendengarkan kisahmu, dan menikmati candamu. Ksatriaku, nama yang tak pernah lupa kuselipkan dalam doa, aku mengerti kebahagiaanmu, aku pun harus puas kininhanya menjadi penonton tawamu, ku titipkan asa yang dulu kuselipkan dalam jiwamu, yang membuatmu terjaga, yang membuatmu aman. Ksatria, mengapa bintang jatuh menjadi sangat menarik bagimu? Bukankah harusnya, ksatria memilih bintang jatuh ketika putri mengabaikannya? namun sebenarnya putri tak pernah sekalipun mengabaikannya.
Selamat malam ksatriaku, apakah kamu masih memandang bintang yang sama denganku? Aku masih disini, memandangi bintang yang dulu selalu menjadi penyampai rinduku dalam lamunan. Belaian lembut angin malam masih menemani acaraku malam ini. Tak ada yang berbeda. Hanya saja, kini sosok yang selalu ku selipkan rindu, yang selalu hadir dalam ucapan doaku, yang selalu menjadi alasan dan jawaban dari semua tanda tanya, kini telah menghilang. Ksatria, apakah rindu yang kutitipkan sampai kepadamu? secercah hati yang kau sisakan kini telah menjadi biang yang membuatku semakin tak dapat melupakanmu.
Ksatria, semua lukisan tentangmu masih terlihat jelas olehku. adakah aku masih menjadi pengingat untukmu? semua kepingan piring hitam yang kucoba letakkan dalam kotak dan kututup rapat-rapat, pada kenyataanya tidak dapat benar benar menutup, masih ada celah yang membuatku ingin membukanya dan mengintipnya kembali. Aku yang dulu menjadi sapaan dalam lamunan, kini harus puas menjadi pendengar kabar dari orang asing. Ksatria, aku merindukan alunan lagu yang selalu kau nyanyikan dalam kesunyian yang membuatku tertidur pulas hingga pagi menjelang. Aku merindukan ucapan yang selalu tak pernah lupa kau selipkan sebelum mataku terlelap. Aku selalu merindukanmu. Bayangmu selalu menemaniku disini. tenanglah, aku tak pernah berniat mengusik segala ketentramanmu kini. Aku mengenalmu terlalu dalam, terlalu jauh, terlalu dekat. hingga aku mengenal bagaimana harus berhenti dan berterus terang kepadamu. Ksatria, Aku mengantarmu dalam bahagiamu, menemani dalam tangismu, mendengarkan kisahmu, dan menikmati candamu. Ksatriaku, nama yang tak pernah lupa kuselipkan dalam doa, aku mengerti kebahagiaanmu, aku pun harus puas kininhanya menjadi penonton tawamu, ku titipkan asa yang dulu kuselipkan dalam jiwamu, yang membuatmu terjaga, yang membuatmu aman. Ksatria, mengapa bintang jatuh menjadi sangat menarik bagimu? Bukankah harusnya, ksatria memilih bintang jatuh ketika putri mengabaikannya? namun sebenarnya putri tak pernah sekalipun mengabaikannya.
Langganan:
Komentar (Atom)
