Senin, 23 September 2013

jarak dan waktu

semakin tersiksa jika dirasa
suatu hari dimana kabar tak pernah terdengar
satu kata yang hanya jadi sapaan
perlahan dipertanyakan adanya
rasanya ingin terbang lalu terjatuh
pada lapisan tertipis jarak dan waktu
bahkan selangkah takkan mampu mengubah semua
dan kini hanya menunggu kata yang tepat
bagaimana kini merpati tak lagi menyapa
dia ada. namun tak selalu ada
bukan sepi yang membunuh
hanya rindu yang tak pernah tersampai



Rabu, 07 Agustus 2013

atas bangsa kami

ini jelas bukan tentang bangsa yang dengan gagahnya mengibarkan sang dwi warna
bahkan mungkin ini tak ada dalam hitungan masanya
ini jelas bukan tentang bangsa yang dalam darahnya mengalir semangat yang menggelora
bahkan mungkin kini tak bertepi kembali
jika ini tentang bangsa yang menjerit sedang susah
atau mungkin tentang bangsa yang kini sedang redup bahkan akan mati
yang bertindak kini bukan tentang hati
kami rindu
atas hamparan tanah kami yang subur
atas sapaan lembut embun yang selalu membasahi tumbuhan kami
kami rindu
atas bangsa kami

yang terlihat jelas tentang hari ini

aku tau kini waktu tak lagi seperti dulu
dia telah pergi sedikit demi sedikit
memberi alasan bagaimana aku harus tetap bertahan
bukan saja menanti
namun hidup adalah tentang mencari
seperti kancil
yang tak pernah kehilangan akal
aku tau kini bulan tak mampu bersinar terang
bagaimana secercah harpan tentang malam
kini akan mulai hilang tanpa jejak
seperti sajak yang terhenti tak bertuan
seperti asa yang mengalir tanpa tujuan

ini yang membuat aku kembali



- ketika menulis dapat membuatmu tersenyum dan terisak tangis dalam waktu yang bersamaan -

Rabu, 12 Juni 2013

Kembali tersenyum dengan secercah hati nurani

    Satu hal yang aku dapat lihat dari raut wajah kecil nan mungil seorang gadi kecil dengan bandana merah jambu menghiasi rambut indahnya. Dengan gaun yang begitu sederhana. Gadis kecil itu melenggok dan tertawa lepas bersama teman sebayanya. Gadis kecil itu mengingataknku tentang hampir 16 tahun lalu ketika aku pun masih menjadi seorang gadi kecil dengan bandana merah muda. Waktu berjalan begitu cepat, hingga aku tak sadar jika telah cukup lama dan menjadi sebesar ini terasa begitu cepat. Masih jalas terasa atmosfir yang sama aku rasakan ketika aku masih saja seumurnya. Hidup terasa lebih mudah dan mungkin yang akan menjadi masalah terbesar adalah ketika aku tidak dapat mendapatakan permen saat aku sangat menginginkannya.
     Kini aku terduduk di tribun, memandangi raut wajah dan mendengar tawa renyah dari insan mungil yang mungkin memiliki hal yang tak serupa denganku. Aku begitu menyukai anak kacil, bagaimana mereka dapat tertawa lepas setelah menangis meraung. Bagaimana mereka jujur dan sangat polos sampai kain putih belum ternodai dengan tinta hitam. Terdengar suara pembawa acara sedang memanggil penampilan selanjutnya dari anak-anak manis ini. ini adalah acara dimana setiap anak berhak berkreasi dan menampilkan bakatnya. Senyum yang tulus terlihat dari wajah mungil mereka. hidup terasa akan lebih mudah ketika kamu melihat orang lain tersenyum kepadamu kan?
      Ini bukan kali pertamanya aku mendatangi acara seperti ini, namun tetap saja aku merasa sangat bahagia melihat kejujuran dibola mata setiap anak ini. Ada kesenangan sendiri yang aku rasakan ketika berada dalam atmosfir tempat ini. Ada keceriaan tersendiri yang aku melihat mimpi-mimpi mereka yang tergantung. Begitu banyak hal yang membuatku begitu terenyuh ketika dihadapkan pada anak kecil seperti ini. Terima kasih telah mengisi hari minggu ini dengan senyum tanpa henti.
Terima kasih pasa SSCS yang telah mengadakan acara seperti ini.
Terima kasih adik adik yang membuat saya mengerti tentang bagaimana seseorang harus tetap tersenyum karena itu akan membuatnya lebih baik :)

Minggu, 09 Juni 2013

Tanya Tentang Gadis Kecil

          Bukankah rasanya seperti embun yang tenang kemudian terhanyut? Kembali pada kata yang dulu pernah ada namun tak sempat terucapkan. Adakah malaikat kecil yang bergeming membisikkan cerita tentang gadis kecil yang menanti sebuah kereta kencana? Lalu kemudian adakala  sesuatu hanya akan menjadi sesuatu. Rasa yang begitu ada dan sangat menyesakkan. Seperti kehabisan udara. Ada sesuatu yang tertahan dan terpaksa untuk terhapus. Terpendam dalam kotak mainan yang dipendam dengan hati yang berat. Dan kemudian terhuyung oleh hembusan angin yang melekukkan pada sang dewa. Dewa berbisik pada purnama. “ Adakah seseorang yang selalu menunggu di persimpangan kota yang gelap tanpa kata?” “ada,”  raut wajah purnama kini tak dapat berbohong atas kata tak pernah rampung dalam barisan kalimat. Dalam sonata yang tak pernah hilang. “ Adakah dia seorang gadis? Berhati emas dan berwajah rembulan? ,” kini tetes embun kembali menguak sebuah cerita. Tentang bagaimana rasa yang tersapu dengan waktu serta bagaimana cerita dibalik sebuah pengorbanan dan penantian panjang tanpa perhatian. Laba-laba kecil yang menari diatas rumahnya tiba tiba berhenti pada tetes embun yang kesekian yang dia temui. Dan kembali berjalan ketika menyadari sesuatu. Adakah seseorang ingin semuanya terkesan terlambat? Adakah semua harus memperlihatkan kartunya sebelum semuanya rampung dalam penerjemahan? Adakah rasa yang terburu-buru kemudian berhenti pada satu sudut berselimut sepi dalam sisi ruang kehampaan? Adakah semua pertanyaan itu ada jawabnya?

Selasa, 21 Mei 2013

Sapa Dalam Jingga



Sekumpulan kunang kunang terbang mengiringi malam yang semakin larut. Aku terduduk diam dalam lamunan yang berlalu. Tempat ini masih sama dengan yang dulu. Tempat dimana kata yang tak pernah terucap harus rela terbelenggu. Tempat dimana semua kenangan menjadi satu kemudian kelabu. Lampu taman yang menghiasinya, tak pernah berubah dan selalu meredup jika malam tak bersahabat. Bunga bunga yang dahulu masih kuncup, kini tampak bermekaran. Ada cerita yang masih tersimpan dalam ingatan tentang beberapa tahun yang lalu. Saat sosok yang kini entah kemana, masih menggenggam lembut jemari dalam kehangatan.
---
                “ Hai sudah lama menunggu ya? “ sapanya dengan senyuman yang membuat siapa saja pasti akan terpana.
  “ Hai! Tidak, aku baru saja sampai disini, duduklah. “ kataku dengan membalas senyuman hangatnya.
 Hari ini, adalah hari dimana kita menyempatkan waktu untuk bertemu,  berbagi cerita dan menghabiskan waktu bersama. Dengan dandanan yang sangat aku kenal dan dengan bau harum yang sama, dia selalu mempesona. Detik demi detik kami lalui, tak ada yang mengerti bagaimana sampai saat ini kami masih selalu tertawa bersama, bagaimana hanya dia yang selalu membuat aku rela meninggalkan semua kegiatanku hanya untuk bersamanya, dan bagaimana kami masih dapat menikmati dunia ketika dunia sedang tak bersahabat.
                Kami duduk di sebuah taman di sudut kota. Memanglah tidak mudah, menemukan taman seindah ini di kota metropolitan yang terkadang membuatku terbelenggu dengan segala asap dan hiruk piruk jalanan. Taman ini selalu menjadi tempat kami berbagi cerita, entah tentang hari yang cukup melelahkan, atau hanya tentang burung hantu peliharaannya yang dia sangat sayangi. Pembicaraan hari ini terlalu terpusat dan terlalu serius buatku. Aku selalu senang membicarakan banyak hal padanya tentang apapun. Namun tidak untuk kali ini, hati kami tak halnya lebih banyak berbicara dari pada lidah kami yang serasa menutup seperti bunga- bunga yang masih mengantup. Hari ini memanglah tidak dapat dikatakan hari yang dapat membuat aku terseyum seharian, seperti yang biasa dia lakukan. Hari ini jika bisa, aku hanya ingin menangis dengannya, aku hanya ingin menikmati senyumnya sekali lagi, menikmati setiap detik yang dia hadirkan dalam setiap langkah kecilku.
                “ Maaf ya, aku tidak bisa menolak. Rasanya aku ingin tetap menikmati indahnya bunga di taman ini, namun aku memang harus pergi. “ ucapnya, kali ini dia memperlihatkan ketika dia benar benar ingin tinggal. 
Begitu pun aku selalu ingin kamu di sini.
 Aku hanya dapat tersenyum tipis, tipis sekali hingga mungkin dia tidak dapat melihatnya. Aku selalu ingin dia dapat mengejar impian yang selalu dia dambakan. Aku memanglah bukan siapa siapa untuknya, hingga aku tak dapat menahannya untuk pergi, bahkan ketika aku mengais meminta dia tetap tinggal.
                “ Ada hal yang perlu aku sampaikan. Aku ingin kamu dapat menjaga dirimu dengan baik, jangan nakal ya, jangan lupa untuk mengisi perutmu. Jika kamu butuh tempat untuk bercerita, hubungi saja aku, tapi mungkin tidak dapat sedekat ini lagi.” Kali ini, dia benar benar membuat air mataku terjatuh. Aku tak tahan dengan setiap kata yang ia lontarkan tadi. Aku masih sangat membutuhkannya, aku membutuhkan lenteraku disaat kegelapan menyergapku.
“ Rasanya, aku ingin menahanmu di sini. Jika mampu aku ingin  menutup setiap jalan untuk keluarmu dari negara ini. Namun aku tau, inilah harapan yang selalu kau ceritakan. Aku bahagia karenanya, sungguh. Sahabat terbaikku, aku harap kamu dapat bertahan di sana. Aku selalu akan merindukanmu, merindukan setiap langkahmu. Aku harap kita dapat selalu berbagi. “ Aku berusaha menguatkan diriku sendiri, agar air yang sedari tadi mengalir seperti tak tahu diri dapat berhenti.
                Dia mulai menunjukkan kelembutannya, kali ini  air mukanya berubah menjadi sangat khawatir.
---
                Tahun ini, tepat lima tahun taman ini berganti seperti tamanku sendiri, taman yang dahulu selalu aku habiskan dengannya entah kini hanya ada aku yang sendiri. Entah sedang apa dan bagaimana keadaannya disana. Tempat dan waktu memisahkan kita sekitar tujuh jam dan itu selalu menyiksaku. Sesak semakin menyatu dengan tubuhku, apabila kini aku mengenang setiap lembut sapanya. Bagaimana aku dapat tak bisa melupakan hari hari penuh dengan tawa renyahnya dan entah mengapa setiap hariku masihku sempatkan berada di taman ini agar semua terasa baik-baik saja.
                Otakku bergeming penuh dengan kata dan sapa padanya. Lima tahun yang berjalan dengan lambat, harus tetap menyiksaku dengan hari hari berikutnya. Entahlah, aku hanya merasakan dirinya selalu menemani disampingku dan menyapaku dalam hangat.  Peri-peri seolah berbisik bahwa aku harus lupa saja, namun ribuan bulan di langit dan ketenangan bulan selalu mengikatkanku, bahwa aku hanya ingin dia. Itu saja. Kembalilah. Aku mohon. (la)

Kamis, 28 Maret 2013

Pemuja Yang Bertepi Dalam Diam


                Langit masih saja menunjukkan birunya yang membuat siapa saja jatuh cinta. Mungkin kini seseorang sedang menunggu datangnya hujan hingga dia dapat menari bebas dan mengecup embun embun dedaunan atau mungkin ada seseorang lainnya yang mengucapkan doa dalam keheningannya agar hujan tidak membasahi bumi, hingga dia tidak tersiksa dalam keadaan sepi. Bagaiman bisa aku menjatuhkan diri pada seseorang diantara keduanya? Dan masihkah dapat ku cari sosok yang benar benar ingin memeluk hujan namun dapat memecah keheningan?
                Aku hanya dapat melihatnya dari belakang, melihat punggungnya, dan sesekali mendengarkan suaranya bercerita ataupun menanyakan bagaimana keadaanku. Bahkan aku baru sadar bola matanya begitu indah dan bulat saat aku memberanikan diri untuk menatap wajahnya saat dia kehabisan tenaga. Aku menyukai setiap sudut pandang dirinya. Entah itu bola mata yang sampai saat ini selalu menghantui  pikiranku hingga setiap lagu yang pernah dia senandungkan. Bagaimana sosok sederhana ini selalu membuatku terpesona. Namun, bagaimana aku bisa merengkuhnya dalam kedinginan jika akhirnya aku hanya dapat menahan diri untuk menjadi penonton setia dalam jarak yang kesekian. Dalam jarak yang aman agar dia tidak menyadari betapa sesungguhnya aku hanya ingin menikmati setiap simfoni yang seperti mengalir jika dia berbicara bahkan ketika dia tertawa renyah. Aku menyukai setiap helai kain yang ia gunakan entah itu berwarna indah sesuai dengan warna yang kusuka atau bahkan dengan warna yang aku sangat tidak suka. Entah mengapa, ia tetap terlihat sempurna. Entah mengapa kini aku menikmati duduk terdiam di pojok ruangan dan mungkin sesekali melontarkan kata yang membuatnya tertawa. Aku bahagia mendengarkan setiap tawanya dan sesekali aku memandang ke dalam dua bola mata hitam dan bulat sempurna. Entah insan apa yang telah Tuhan ciptakan ini, mengapa engkau begitu terlihat mempesona untukku?
                Aku sering berharap jika pada akhirnya hujan menghentikanmu sejenak. Hingga aku dapat lebih banyak mengamatimu dan lebih dapat mengenalmu. Atau hanya sekedar menikmati aromamu. Hujan membuatku kedinginan, sungguh. Tapi aku begitu menyukainya, bagaimana Tuhan menciptakan suasana yang begitu damai hingga aku dapat mendengarkan lambaian hembusan angin sejenak. Aku tak terlalu peduli berapa banyak waktu yang kubutuhkan untuk bersama denganmu. Tak mengapa jika hanya bertukar sapa atau kita dapat membuat percakapan yang membuatku begitu bahagia. Suaramu yang selalu membuatku tertegun dan membuatku segan.
                Menjadi pengamat tidaklah mudah, aku harus benar benar menghapuskan jejakku jika kau telah mulai menyadarinya. Aku ingin tetap seperti ini. Dapat mendengarkan tawamu saja sudah lebih dari cukup. Menikmati keindahanmu dari sisi belakang. Dan sungguh, aku mulai sangat menyukaimu, dalam diam. 

Kamis, 21 Maret 2013

Simfoni Hati yang Selalu Menunggu (part 1)



                Dia masih terdiam dalam lamunan. Di balik kaca jendela yang berlapiskan kain putih itu dia menyandarkan diri. Memandang ke luar tanpa tau sebenarnya apa yang dia liat. Matanya seperti menerawang pertanda apa yang akan datang. Menerawang apa yang telah terjadi dan dia hanya memilih menyimpannya dalam  hati. Dimana kamu lenteraku? Kemana perginya kamu? Apa kamu sedang duduk di taman favoritmu untuk menghabiskan waktu? Aku ingin menemuimu lenteraku. Dalam gelap dan sepiku.
----
                Langit masih menunjukkan cerianya. Matahari seperti tepat berada di ubun ubun sampai dia memercingkan matanya hingga hanya nampak seperti segaris. Dia menungu di depan halte sekolah seperti biasanya, tidak ada yang spesial untuk hari ini baginya. Halte itu lenggang, hanya nampak seorang yang sedari tadi duduk kelelahan dan kepanasan di sebelah gerobak baksonya. Wanita itu tampak tidak kuat dengan panasnya kota pahlawan ini. Kulitnya yang kuning langsat memang tak pernah menghitam sampai dia harus memakai krim para wanita wanita yang ingin kulitnya nampak begitu cerah. Dia alami. Seperti  percikan air dalam sungai. Senyum tipisnya nampak ketika dia melihat angkutan kota yang sedari tadi telah ditunggunya. Ah akhirnya.  
                Dia duduk di barisan paling belakang yang dekat dengan jendela. Itu memang tempat favoritnya. Dia membuka jendela lebar lebar hingga udara dapan masuk dan memenuhi isi angkutan kota itu. Dia duduk dengan tenang sedari melihat ke luar jendela dan menghirup udara dalam dalam. Angkutan itu tidak penuh, hanya ada tiga orang termasuk wanita yang terlihat menikmati perjalanan pulang yang tidak dapat dikatakan sebentar. Tiba tiba telepon genggamnya berdering, dia terlonjak terkejut dengan getaran yang dihasilkan satu pesan masuk itu. Tampak jelas nama ‘ Alfa ‘ . dia tersenyum tipis kembali. Senyuman itu hanya segaris namun mampu membuat siapapun yang melihatnya akan merasa terbang sesaat. Dibukalah pesan yang sedikit mengganggu keasyikannya bercengkrama dengan udara kota ini.
Dari : Alfa
Pesan : Test
Apa apaan si Alfa ini pesannya gak penting banget. Namun wanita itu masih tetap ingin untuk membalas seadanya.
Balas :  Hai
Dia melanjutkan keasyikannya menghirup dalam dalam udara dan mengalirkannya diseluruh bagian tubuh. Dia selalu melakukan itu. Menikmati setiap hembusan yang dapat dia hirup saat dalam keadaan apapun. Angkutan itu berjalan dengan lambat. Bahkan jika diadu dengan orang berjalan saja, orang itu pasti akan berada di posisi depan. Setiap mata yang memasuki angkutan itu tidak melepaskan pandangannya pada satu sosok wanita di ujung baris duduk di pinggir jendela. Dia memang seperti bebas jiwanya. Jujur dan tak peduli dengan apapun yang memintanya untuk menghentikan setiap ritual syukurnya untuk menikmati kenikamatan udara dari Tuhan. Getaran dari ponsel genggamnya pun akhirnya dapat menghentikannya sejenak. Pesan dari alfa lagi. Batinnya.
Dari : Alfa
Pesan :  Hai juga udah pulang ta?
Tak mau kehilangan suasana ritual menghirup udaranya, dia pun membalas pesan singkat itu dengan cepat.
Balas : Dalam perjalanan. Kenapa?
Nampaknya Alfa sedang ingin mengganggu ritualnya sejenak. Setelah beberapa saat mereka duduk bersebelahan, akhirnya Alfa membuka pintu hubungan kedua belah pihak yang jauh berbeda ini.
Alfa. Yang sedang duduk di sebuah taman di dekat rumahnya. Yang menikmati indahnya kupu- kupu dan bunga-bunga di sampingnya. Dia begitu menikmati saat-saat paling menenangkan untuk hidupnya. Menghirup udara di tengah taman dan sejenak melepas lelah dari kota metropolitan. Ada sesuatu yang ia pendam namun tak bisa ia kendalikan. Ia terpaku pada satu sosok yang beberapa hari ini membuatnya selalu tersenyum. Sosok yang hanya bisa  dia nikmati dari samping namun tak bisa dia rengkuh. Sosok yang bebas dan selalu menarik. Di balik kaca mata yang berganggang  hitamnya seseorang itu mengalihkan dunia Alfa.  
                Alfa  mengirim sebuah pesan singkat kembali. Pesan itu memang sangat singkat dan sederhana. Namun, dibalik kesederhanaannya. Tersimpan banyak makna. Alfa membutuhkan waktu 30 menit untuk mengirim pesan pertama. Seseorang yang  berada jauh di sana. Yang seolah menjadi pelangi walaupun  langit tak bersahabat. Membuatnya selalu berfikir apa yang harus dilakukan oleh Alfa untuk dapat sejenak memandang kedua bola matanya. Menikmati senyumnya. Memasuki dunianya.
Dari : Alfa
Pasan : Gapapa, cuma tanya. Nggak ganggu kan tan?
                Kintan. Melihat cakrawala dengan mata yang berbeda. Melihat dunia dari jendela yang hanya dia yang mengerti. Dia aman. Dalam kaca yang melindungi dia dari badai yang sangat tidak dia harapkan. Dia jiwa yang bebas. Terbang seperti kupu-kupu yang terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah dengan cara apa kupu-kupu kecil yang rentan dan rapuh tiba tiba terlihat dari kaca gedung tinggi. Entah kenapa pelangi selalu ada dalam hari-harinya.
Balas : Oh, Enggak kok.
                Perbincangan panjang mereka pun dimulai. Alfa lah yang menjadi biangnya. Bagaimana dia meluluhkan Kintan yang seperti embun namun sukar untuk direngkuh. Kintan yang selama ini liar dalam pikirannya kini mampu menyapa dunia dengan lembut dan hangat. Entah Alfa sadar atau tidak, pesan singkatnya pada hari itu mengubah hidup Kintan. Dua insan yang berbeda. Alfa dengan segala ketidakpastiaanya dan Kintan dengan segala hal yang pasti. Ada rasa yang terselip, ada bintang yang menyapa dan ada hasrat dalam kata. Perbincangan yang tak biasa. Perbincangan yang  menjadi zona nyaman mereka berdua. Perbincangan yang menciptakan rasa. Sangat luar biasa.
                Langit seperti sangat bersahabat. Tak menandakan akan turun hujan dan sinarnya terik matahari tak terlampau menyilaukan. Langit mengerti jika ada dua insan yang ingin sejenak terhenti. Terhenti dalam asa mereka, dalam dimensi yang hanya mereka pahami. Tanpa kicauan merpati yang berirama tanpa henti. Mereka ingin jauh dari kota bising yang dipenuhi tikus-tikus penipuan. Gudang dari pertentangan. Dunia bagi orang orang tak berhati. Lupa dengan hati yang rasanya rentan jika harus tersakiti. Dunia ini telah berputar seperti mati. Berputar hanya dalam satu sisi. Yang menjadi mayoritas yang akan berpengaruh. Yang minoritas? Hanya menunggu dalam kotak mainan. Menunggu dirinya diputar oleh anak kecil dalam lamunan. Memasuki dimensi anak-anak yang tak pernah mati. Untuk mengerti bagaimana kepolosan  dan kesederhanaanlah yang berarti segalanya.
                Embun pagi masih terlihat menyapu dedaunan namun sosok itu telah menunggu di depan pintu. Sosok yang menjadi lamunan dalam kerinduan malam, sosok yang mengubah segalanya menjadi lebih ceria dan sosok yang berada dalam hati yang kesepian. Dalam busana klasik yang mengundang setiap mata untuk sedikit melirik. Dalam jaket berwarna abu-abu kesayangan dan  kaos berwarna putih dengan tulisan kecil yang bersahabat. Tak ada yang istimewa. Hanya saja dia sempurna. Tentunya bagi sosok wanita yang menantinya dalam diam. Hanya berbicara lewat hembusan angin dan sapaan halus. Mereka selalu mengerti satu sama lain, walaupun tak banyak kata rindu terucap. Namun mereka berdua tau mereka selalu saling merindukan. Wanita itu masih termenung di depan kaca. Melihat gaya busananya yang dikenankan untuk bertemu seseorang yang berhasil membuat dia merubah segalanya. Dalam balutan gaun santai yang dia kenakan. Dia terlihat sangat manis. Bermotif polos dan berwarna lembut dengan pita kecil menjadi aksen yang menarik. Memakai sepatu  tak ber-hak yang sangat lucu dangeraian rambut sebahu dengan senyuman segaris yang sangat menawan. Dia melihat lagi keseluruhan bentuk tubuhnya. Apakah dia terlihat spesial hari ini atau justru terlihat memuakkan. Jiwanya kini tak sebebas dulu. Kini ada seseorang yang telah merengkuh sedikit jiwanya tanpa mengurangi daya tariknya. Ada yang menjadi sandaran jiwa yang bebas, kini dapat beristirahat sejenak. 


Minggu, 10 Maret 2013

Sonata Hujan


   Dia. Seseorang yang setia menanti di balik rasa lelah. Seseorang yang selalu menanti kabar dan mencari keberadaanku. Entah mulai kapan dia mulai menjadi orang yang pertama berada di otakku saat  aku membuka mata. Memandang senyumnya saat dia menatap lekat kedua bola mataku selalu membuatku mengembangkan senyum dan membuat hariku lebih baik. Dapatkah dia selalu mendekapku  saat rintik hujan mendera? Ataukah dia akan melepaskanku saat badai menghantam?

" Kamu sudah berapa lama disini? Maaf ya aku lama " kataku. Dia mengecup keningku. Lembut. Hangat.
" Ah nggak, baru aja kok. Kamu capek ya? Keringatnya tuh " jawabnya dengan senyumnya yang hangat dan belaian lembut mengusap kepalaku. Aku seperti anak yang bertemu dengan ayahnya.
" Iya. Latihannya berat nih hari ini. Maaf ya buat kamu nunggu  " Aku begitu menikmati keindahan air mukanya saat dia mulai memperhatikanku seperti ini. Entahhlah. Bagaimana dia bisa seindah ini ketika matahari telah menjelma sebagai bulan. Aku sangat menikmaati keadaan seperti ini.
" Yuk, nanti keburu malam loh. Kamu juga harus istirahatkan kan? "  Kecupan lembut itu kembali dihantarkannya. Aku hanya tersenyum kepadanya dan menaiki sepeda motor yang sedari tadi  menunggu kami. 
      Aku selalu menikmati perjalanan pulang bersamanya. Entah karena aku dapat sekedar melepas lelah dibahunya atau karena dialah yang membawaku menembus angin malam dengan hangat. Aku membayangkan bagaimna jika hujan membuatnya terhenti. Bagaimana jika hujan membuat kita terpisah. Tersiksa. Dua jiwa yang harusnya menyatu tiba-tiba terpisah dengan rintik hujan. Dapatkah aku melewatinya?
 " Tadi ngapain aja? cerita dong ke aku " Tangannya menggenggam lembut tanganku yang memegang erat jaketnya. Mengharap kehangatan dari matahariku ini membuatku lebih tenang dan  menghilangkan peluhku. 
" Latian fisik. Lari dan ya seperti biasanya itu, tapi aku udah mulai manja sekarang. Sering gak kuat. Lemah ya aku? " aku menjawab seenaknya. 
" Siapa sih yang bilang kamu lemah? kamu cuma butuh istirahat kok. Istirahat yang banyak ya? kalau udah nggak kuat berhenti loh ya " Aku mengamati parasnya dari kaca spion motor. Betapa hangat dan lembutnya wajah indah ini. 
          Aku terpaku. Seperti layaknya anaknya kucing aku selalu ingin dimanja. Tiba-tiba air hujan menghantam kami. Aku menyukai hujan. Menyukai semua tentangnya. Tentang baunya dan tentang kenangan yang ditinggalkan olehnya.
“ Kita berhenti sebentar ya, pakai jas hujan “ katanya, singkat.
Tuhan jangan hentikan hujan ini. Mungkin aku tidak akan merasakan hujan seperti ini lagi. Bersamanya. Adakala kami berbisik. Adakala kami teriak. Namun adakala disaat kami tak tau apa yang harus kami lakukan. Adakala disaat kami hanya inign bersandar ditempat kami berpijak. Aku tak ingin meninggalkannya. Sungguh. Kata demi kata telah aku rangkai dalam beberapa tulisanku agar dia selalu dapat mengenalku. Mengenangku yang setidaknya pernah menjadi seseorang yang utuh baginya.  Sorot mata itu, yang memabukkanku dan selalu membuatku melayang. Kini ada dihadapanku, Di bawah hujan. Dia begitu bersinar dan membuatku utuh. Kini dia menatapku lekat. Seperti bertanya. Namun tak menemukan jawabnya. Mata kami beradu, dia bertanya dan aku mengalihkan jawabannya. Aku mengalah. Tatapanku terlalu lemah jika dibandingkan dengan tetapannya. Aku menunduk dan dengan cepat dia membuatku terjaga. Dia memelukku dengan hangat. Di bawah hujan.
“ Kamu kenapa? Kamu kedinginan? Maaf ya harusnya aku tidak membuatmu hujan hujan “ bisiknya. Tuhan, sekali lagi aku hanya mohon engkau jaga dia. Entah dalam pelukan siapa. Tapi jagala dia seperti dia menjagaku seperti ini.
“ Aku gak kenapa kenapa “ Aku tidak bisa menahan isak tangisku. Aku ketakutan. Ku rengkuh tubuhnya lebih dalam hingga aku dapat merasakan detak jantungnya. Dia sepertinya mengerti jika aku dalam fase yang mungkin buruk baginya. Dia mendekapku dengan lembut dan hangat. Aku mendengar dia mulai ikut menangis. Isak tangisnya terasa jelas ditelingku, walaupun aku yakin dia telah menahan air matanya. Dia mendekapku dengan sangat erat seperti tak mau aku melepaskannya.
“ Kamu jangan pergi “ bisiknya pelan. Lirih, hampir tak terdengar.
“ Aku takut. “ Kini air mataku tak tertahankan lagi aku mulai menangis seperti anak bayi. Air hujan masih menyelimuti kami. Tak ada tanda jika dia akan berhenti.
“ Aku sudah tau semuanya sayang. Tenang, ada aku. “ air matanya kini mulai membasahi rambutku yang sedari tadi dibelainya dengan lembut.
Tuhan, mungkin kini waktuku telah habis untuk mendekapnya seperti ini. Namun izinkan aku meminta padaMu. Tuhan, berilah dia kebahagiaan yang dia harapkan. Jaga dia seperti dia menjagaku. Dekaplah dia, jika dia mulai menjauh dariMu. Berikan dia kesehatan yang selalu membuatnya dapat mengejar semua mimpi-mimpinya. Tuhan, kini embun tak dapat ada setelah hujan. Kini tak ada sapaan halus dan lembut yang membelai hati. Kini pelangi tak ubahnya hanya pantulan warna tanpa arti sebenarnya. Namun Tuhan, bisikkan selalu rinduku untuknya. 

Senin, 25 Februari 2013

selamat malam, ksatria

Aku bertanya tentang dongeng yang selalu aku baca setiap malam, pada suatu hari ada seoarang ksatria yang jatuh cinta pada sang putri, sang putri berada jauh hingga ksatria tak dapat menggapainya. Namun cinta ksatria tak pernah menyerah. Dia mencoba segala cara untuk pergi ke tempat putri berada. Suatu hari ada bintang jatuh yang menawarkan diri untuk membawa ksatria menuju putri. bintang jatuh berkata bahwa resiko tertinggi adalah ksatria dapat tidak selamat. Cinta ksatria terlalu besar, ksatria mengorbankan nyawanya hanya untuk memandang langit dari tempat putri berada. Ksatria setuju. Akhirnya ksatria dapat melihat sang putri, hingga akhirnya saat itu tiba. Ksatria terjatuh dan putri tidak dapat melakukan apapun. Di bawah, bintang jatuh menangkap ksatria secepat mungkin dan menolongnya. 

Selamat malam ksatriaku, apakah kamu masih memandang bintang yang sama denganku? Aku masih disini, memandangi bintang yang dulu selalu menjadi penyampai rinduku dalam lamunan. Belaian lembut angin malam masih menemani acaraku malam ini. Tak ada yang berbeda. Hanya saja, kini sosok yang selalu ku selipkan rindu, yang selalu hadir dalam ucapan doaku, yang selalu menjadi alasan dan jawaban dari semua tanda tanya, kini telah menghilang. Ksatria, apakah rindu yang kutitipkan sampai kepadamu? secercah hati yang kau sisakan kini telah menjadi biang yang membuatku semakin tak dapat melupakanmu.
Ksatria, semua lukisan tentangmu masih terlihat jelas olehku. adakah aku masih menjadi pengingat untukmu? semua kepingan piring hitam yang kucoba letakkan dalam kotak dan kututup rapat-rapat, pada kenyataanya tidak dapat benar benar menutup, masih ada celah yang membuatku ingin membukanya dan mengintipnya kembali. Aku yang dulu  menjadi sapaan dalam lamunan, kini harus puas menjadi pendengar kabar dari orang asing. Ksatria, aku merindukan alunan lagu yang selalu kau nyanyikan dalam kesunyian yang membuatku tertidur pulas hingga pagi menjelang. Aku merindukan ucapan yang selalu tak pernah lupa kau selipkan sebelum mataku terlelap. Aku selalu merindukanmu. Bayangmu selalu menemaniku disini. tenanglah, aku tak pernah berniat mengusik segala ketentramanmu kini. Aku mengenalmu terlalu dalam, terlalu jauh, terlalu dekat. hingga aku mengenal bagaimana harus berhenti dan berterus terang kepadamu. Ksatria, Aku mengantarmu dalam bahagiamu, menemani dalam tangismu, mendengarkan kisahmu, dan menikmati candamu. Ksatriaku, nama yang tak pernah lupa kuselipkan dalam doa, aku mengerti kebahagiaanmu, aku pun harus puas kininhanya menjadi penonton tawamu, ku titipkan asa yang dulu kuselipkan dalam jiwamu, yang membuatmu terjaga, yang membuatmu aman. Ksatria, mengapa bintang jatuh menjadi sangat menarik  bagimu? Bukankah harusnya, ksatria memilih bintang jatuh ketika putri mengabaikannya? namun sebenarnya putri tak pernah sekalipun mengabaikannya.